apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Bingkai itu Bernama 2014

3 min read

Duniaku Maya – Lembar-lembar yang dulu kosong itu telah terisi penuh dengan rangkaian cerita dengan segala lika-likunya, entah itu kisah yang mengharu biru, menggetarkan, mendebarkan, bahkan menyejukkan. Semua itu telah Allah skenariokan kepada ku untuk kupetik hikmahnya.

Yah, tahun ini adalah tahun pendewasaan bagiku. Bagaimana tidak, aku (bahkan mungkin orang-orang yang sama nasibnya denganku) dihadapkan pada kenyataan-kenyataan besar yang harus kucicipi pahitnya. Dimulai dari kabar tentang UNAS 2014 yang tingkat kesulitan soalnya menandingi soal SBMPTN.

Kabar tersebut segera disambut perasaan khawatir oleh civitas akademika di sekolahku, terutama guru-guru. Beliau semakin gencar mencekoki aku dan teman-teman dengan soal-soal prediksi UNAS yang mendewa.

Januari..Februari..sungguh, bulan-bulan penuh tekanan itu kami lalui dengan tetap menyulam semangat. Meski harus berkawan peluh dan kantuk, pagi-pagi buta kami datang ke sekolah, entah untuk bimbel, tutor, ataupun Istighosah. Rutinitas tahunan penghujung SMA itu merupakan salah satu charger semangat yang tak terlupakan.

Januari

Januari, memori itu masih mengendap di otakku. Tentang perayaan HUT SMAku yang ke-33. Memori indah bersama teman-teman angkatan XXXI, dan tentunya teman-teman GRANAT 12 IPA 4. Keloyalan, kekonyolan, sportivitas, dan spiritual kami sulam bersama.

Aku ingat tawa-tawa riang mereka…aku masih bisa merasakan kekompakan kami yang terkadang masih sulit untuk diekspresikan…dan aku ingat bagaimana kebaikan dan ketulusan wali kelas dan guru-guruku dalam memberikan ilmu dan wejangan-wejangan untuk mengarungi kehidupan pasca SMA. Wonderful!

Februari

Februari, rangkaian ujian mulai menjejali hari-hari. Mulai dari ujian praktik olahraga, praktikum kimia, fisika, biologi, praktik seni budaya, dan praktik drama bahasa Inggris. Meskipun melelahkan, anehnya kami malah menikmati semuanya. Tidak terasakan seberapa capeknya praktik lari, tak terungkap dag-dig-dugnya praktikum kimia, fisika, dan biologi…

Maret

Maret, atmosfer SNMPTN mulai terasa. Kami mulai dihadapkan untuk memilih. Memilih ke mana pendidikan kami akan bermuara. Sungguh momen-momen yang sulit untuk dilalui. Berulangkali keluar masuk BK hanya untuk konsultasi. Hari ini mantab memilih A, besok goyah, beralih memilih B. Ah, itu wajar.

Semua murid kelas 12 pasti akan merasakannya, entah 10 tahun yang lalu atau 10 tahun ke depan. Setelah menuai beragam opini, wejangan, dan motivasi dari beberapa teman dan tentunya orangtua, jadilah tanggal 8 Maret 2014, dengan keyakinan dan harapan yang mengangkasa, kupilih Farmasi dan Kimia Unair, serta Pendidikan Matematika Unesa. Bismillah! 

April

April, bulan ini selalu menyita energi yang lebih. Bulan perjuangan! Muara dari segala ikhtiar kami. Tanggal 14, Bahasa Indonesia dan Biologi menantang kami. Soal-soal yang disuguhkan kemendikbud memang patut diacungi jempol. Soal itu sukses membuat kami pucat pasi.

Tanggal 15, bencana itu datang tanpa diundang, yap, Matematika dan Kimia sukses ‘membunuh’ kami. Soal-soal luar negeri, katanya, itu bagai sumanto jilid 2, sukses ‘menerkam’ semangat kami. Terakhir, tanggal 16, Bahasa Inggris dan Fisika sukses menjadi penutup yang gemilang, gemilang dalam menyabit keyakinan kami.

Sempat ada keraguan, bayangkan, hanya sekitar 50% aku bisa menjawab dengan yakin. Sisanya? Apakah gara-gara UNAS kontroversi ini perjuangan kami selama tiga tahun kandas sia-sia?

Mei

Mei, sungguh tingkat kecemasanku meningkat pada bulan ini. Betapa tidak, ada dua peristiwa penting yang akan kulalui. Selain pengumuman SNMPTN 27 Mei, seleksi tulis dan wawancara Beastudi ETOS tanggal 17-18 Mei di kampus B Unair Surabaya.

Akan tetapi, disaat sebagian teman-teman menghabiskan masa libur pasca UNASnya di bimbel-bimbel persiapan SBMPTN, aku hanya meringkuk di rumah, berkutat dengan soal-soal SBMPTN tahun lalu hasil fotocopy-an. Berulangkali kuajukan permintaan untuk ikut bimbel, tapi ibu selalu menolak dan memintaku menunggu hasil SNMPTN dulu. 

Tanggal 17 Mei 2014, aku dan bapak melenggang ke Surabaya. Saat tiba di kampus impian, semangatku membuncah. Apalagi saat melewati gedung fakultas farmasi, secercah keyakinan menjalari hatiku. Entahlah, keyakinan bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi bagian darinya.

Akan tetapi, keyakinan itu pupus saat tulisan besar-besar warna merah menyampaikan permintaan maaf atas gagalnya aku menembus SNMPTN. Seketika tangisku pecah, terbayang bagaimana kecewanya orangtuaku. Akan tetapi, ibuku malah memelukku, menenangkan kekalutan yang menutupi logika. Masih ada SBMPTN!

Alhasil, saat wisuda tanggal 31 Mei 2014, keceriaan itu tak sepenuhnya kudapat. Mataku masih sayu, hatiku masih bergemuruh. Ah, remaja!

Juni

Juni, bulan perjuangan jilid 2. Dua minggu awal aku kesetanan dalam belajar. Selain bimbel, aku juga aktif mencari-cari soal di internet. Tak dipungkiri, soal-soal internet juga cukup membantu. Akan tetapi, hasil try out SBMPTN masih jauh dari target. Tak pungkiri, aku sempat down. Apakah bisa aku menembus PTN favoritku?

17 Juni 2014, bersama kawan seperjuangan yang lain, kami bergulat dengan soal-soal SBMPTN yang memang terkenal killer. Bertempat di ITS teknik sipil, kupasrahkan hasil dari apa yang kuperjuangkan. Apapun itu, aku yakin itulah yang terbaik dari Allah.

Selain tes SBMPTN, aku juga mendaftar Sipenmaru Poltekkes Malang tanggal 25 Juni 2014. Pada saat hari bertambahnya usiaku tersebut aku sadar, bahwa selama ini mungkin aku terlalu lalai, terlalu manja pada keadaan. Selama ini, mungkin aku terlalu meremehkan, terlalu menganggap enteng.

Aku sadar, dengan adanya ujian ini, aku belajar bagaimana mengontrol emosi, khususnya kesabaran. Sabar dalam menghadapi cemoohan keadaan, sabar dalam menghadapi segala ujian…

Juli

Juli, aku sangat tidak suka menunggu, apalagi menunggu sebuah pengumuman yang menentukan masa depan. Alhamdulillah,sebuah kabar gembira menyambut awal Juli, pengumuman bahwa aku dinyatakan diterima di D4 Gizi Poltekkes Malang. Sejujurnya, kebahagiaanku tidaklah genap. Masih menggelayut dalam hatiku tentang nasib SBMPTN.

Selama Ramadhan bergulir, aku tak bisa menikmati ibadah dengan sepenuhnya. Pengumuman semakin dekat. Aku galau segalau-galaunya, namun aku tetap yakin, apapun hasilnya, itulah takdir terindah yang diberikan oleh Allah.

SBMPTN alhamdulillah

Pada akhirnya, 16 Juli 2014 membuka gerbang kegembiraanku. Pernyataan atas diterimanya aku sebagai mahasiswa Pendidikan Apoteker Universitas Airlangga. Subhanallah, tidak ada kata lagi yang mampu kuucapkan selain Alhamdulillah, syukur kepada Allah yang Maha Adil, atas nikmat luar biasa yang diberikan-Nya.

Agustus, September, Oktober, November, Desember

Aku masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi aku berbeda, aku penerima beastudi Etos 2014, yang diharuskan tinggal di asrama, pembinaan setiap habis sholat shubuh, kegiatan sosial, dan lain-lain.

Setelah PPKMB (Amerta), ASPIRINT 2014, dengan segala kegiatannya yang luar biasa memukau dan penuh esensi, aku masih mencoba aktif di kuliah, mengikuti organisasi fakultas yang sesuai dengan minat dan kebutuhanku. Aku masih beradaptasi dengan teman-teman baru yang datang dari beragam kultur di Indonesia. Aku masih mencoba… aku masih mencoba menemukan jatidiriku di bangku perkuliahan.

Pada intinya, banyak peristiwa besar yang terjadi dalam hidupku. Beragam peristiwa yang Insya Allah dapat memperbaiki karakter diriku. Peristiwa-peristiwa itu tersusun manis dalam memoriku, dengan bingkai yang sama luar biasanya. Bingkai itu bernama 2014.

Semoga sekelumit cerita hidupku ini bermanfaat untuk pembaca. Cerita ini saya berikan tidak untuk berpamer ria, tidak! Hanya untuk berbagi kisah yang semoga dapat memotivasi. Aku selalu percaya bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, dan tahu kapan saat terbaik untuk mendapatkannya.

Man Jadda Wajada, senjata penyemangat dalam menghadapi segala cobaan tahun ini, Insya Allah.

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.