apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Difusi Rasa

1 min read

Dalam dekap keraguan, aku menyusuri sisa-sisa kenangan masa lalu. Dingin. Senyap. Gelap. Tak ada spektrum warna cerah berhasil kuingat. Yah, hanya rasa sakit yang berhasil menyusupi amygdala.

Jadi, apa benar ambang rasa sakit luka masa lalu itu telah berangsur berkurang hanya karena takdir mempertemukan kembali meski sebatas bingkai kebetulan?

Aku menekuri rekam jejak digital di layar ponselku. Dua centang biru itu agaknya seperti sembilu menusuk tanpa ampun. Bunyi notifikasi percakapan grup itu pun kian mencambuk akal sehatku. Aku menjadi yang terabai setelah aku menjadi orang yang ada untuknya saat dia merasa asing.

Hei, lupakah engkau siapa dirimu dan siapa dirinya?

Suara hati menggelegar dalam senyap. Bergaung dalam lorong kesunyian yang sepertinya kian tak berujung. Air mata bukan menjadi sesuatu yang sulit untuk kuluapkan. Banjir penyesalan meluluhlantakkan hariku. Kuputuskan untuk menelfon Firza, karibku yang tengah berkarir di luar provinsi. Demi kewarasan jiwa yang sudah terkuasai barikade overthinking.

“Apa aku harus selalu mencintai orang yang tidak mencintaiku?”

“Kalau sudah capek mengejar, mundur aja pelan-pelan. Hidup ini seni. Nggak ada patokannya,” suaranya yang renyah seperti menjadi penguat sendi-sendiku yang lemah.

“Capek nggak sih berkutat dengan asumsi?”

“Banget. Apalagi kalau kita nggak tahu, kepada siapa kita meminta bantuan untuk mengubah asumsi jadi fakta,” ia terkekeh. Nampaknya puas mengatakan itu kepadaku, seorang introvert yang kebablas bucin.

“Ya Allah, berikanlah sabar dan ikhlas!” Aku berteriak di sambungan telfon.

“Tuh, kan, sudah ngerti!”

“Ngerti apa?”

“Sudah waktunya mendifusikan rasa.”

“Maksudnya, memindahkan rasa karena ia sudah terlalu pekat?”

“Yap!”

“Ke mana? Mencintai seseorang saja runyam, apalagi harus mencari hati yang baru untuk berpindah.”

“Ke Yang Maha Mencintai…”

Aku terdiam beberapa saat. Agaknya aku melupakan poin penting ini.

“Ke orangtua yang mencintaimu tanpa tapi…”

“Firza…” aku kembali sesenggukan.

“Iya?”

“Aku sudah terlalu jauh menganalisa masa depanku hingga aku lupa jika takdir Allah adalah yang terbaik.”

“Yap, mungkin hadirnya dia kembali di kehidupanmu adalah misi Allah untuk menguji keimananmu. Bukankah ujian naik tingkat itu nggak ada yang mudah? Tapi ada yang terasa manis…”

“Cukup langitkan doamu, sempurnakan sholatmu, percantik akhlakmu, maka Dia akan mengirimu sebaik-baiknya cinta…”

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *