apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Etos Road to School (ERTS) Terakhirku

2 min read

Duniaku Maya – Kulirik layar handphoneku, sebuah chat panjang di grup WA beasiswaku yang membahas kewajiban melaksanakan Etos Road to School (ERTS), semacam pengenalan beasiswa untuk siswa SMA, amanah tahunan yang sudah kulaksanakan hampir empat tahun aku menjadi mahasiswa.

Sebenarnya aku tak masalah dengan tugas tersebut, hanya saja bulan ini aku sedang menyusun proposal skripsiku. Bismillah.

Seketika aku meraih kalender, menyusun strategi untuk bisa menyelesaikan proposal tepat waktu, sekaligus mengatur agenda untuk melaksanakan ERTS.

Yah, aku tak boleh kalah dari keadaan, aku tak boleh menyerah dari keterbatasanku. Kuputuskan untuk melaksanakan ERTS di daerah asalku, Bangil Kabupaten Pasuruan, bukan di Surabaya, dengan pertimbangan kemungkinan perizinan lebih mudah di Bangil daripada di Surabaya sehingga aku bisa menghemat waktu.

Pemilihan Sasaran Sekolah

Setelah mencari informasi dari internet maupun dari saudara, kuputuskan untuk mengunjungi sebuah sekolah swasta di kecamatan Bangil. Kupikir, akses informasi terkait beasiswa di almamaterku, SMAN 1 Bangil, sudah cukup banyak, sehingga aku harus melakukan ERTS ini tepat sasaran.

Dari beberapa SMA dan SMK swasta di kecamatan Bangil, aku memilih SMK Al-Madinah dan SMA Al-Aziz yang kebetulan berada dalam satu kompleks.

Ditemani adik kandungku, Madina, kami berangkat menuju kedua sekolah tersebut untuk menyerahkan surat izin. Untungnya adikku merupakan penerima beasiswa Bidikmisi di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), sehingga aku bisa menawarkan sosialisasi Bidikmisi sekaligus dengan adikku sebagai narasumbernya.

Tak kusangka, kami begitu disambut baik oleh kepala sekolah SMA Al-Aziz dan SMK Al-Madinah. Keduanya sangat antusias dengan kedatangan kami dan menyampaikan banyak terima kasih karena kami bersedia berkunjung di sekolah mereka untuk berbagi informasi.

Entahlah, sudah empat tahun aku melakukan ini, dan aku selalu bahagia saat pihak sekolah mengutarakan kesannya atas kehadiranku di sana. Seperti sebuah kebahagiaan yang tidak terdefinisikan.

Pihak sekolah berjanji akan mengabari kelanjutan dari kegiatan ini beberapa hari lagi, dan beliau memaklumi keadaanku yang sedang menyusun proposal skripsi sehingga pihak sekolah juga mempertimbangkan kesanggupanku.

Alhamdulillah. Allah memang Maha Baik. Kabar baiknya lagi, kedua kepala sekolah tersebut menyarankan untuk menggabungkan murid kelas 12 SMA dan SMK dalam satu ruang saat ERTS dilakukan nanti, agar kami tidak kelelahan.

Lets start the show!

Beberapa hari kemudian, pihak sekolah mengabariku untuk melakukan ERTS pada hari Jumat, 12 Januari 2018. Untunglah, jadwal sidang proposalku mundur sehingga aku bisa pulang untuk memenuhi panggilan dari kepala sekolah tersebut.

Aku dan adik datang 30 menit dari jam yang diajukan pihak sekolah. Selama menunggu, aku dan adikku mempersiapkan materi, LCD, dan lainnya. Satu persatu siswa kelas 12 dari kedua sekolah memasuki kelas. Tak kusangka, tak ada murid laki-laki sama sekali di ruangan itu. “Murid laki-lakinya sekolah di SMK negeri di sebelah, Kak.” Begitulah jawab mereka.

Kuawali sosialisasi itu dengan mengenalkan jenis-jenis beasiswa di Indonesia. Dugaanku tepat, dari 47 siswa yang hadir diruangan tersebut, tak ada satupun siswa yang mengetahui makna beasiswa, apalagi macam-macam beasiswa.

Saat kulakukan random sampling, kutanyakan asumsi mereka terkait kuliah, hampir semua jawabannya sama “Mahal, Kak”, “Susah, Kak”, “Enakan kerja, Kak”. Baiklah… tugasku akan berat sepertinya.

Suasana ERTS
(source : dokumen pribadi)

Aku menjelaskan pentingnya kuliah, cara mendaftar kuliah, pengalaman menyenangkan saat kuliah, dan lain-lain. Kemudian, aku menjelaskan tentang Beastudi Etos lebih detail dan berbagi pengalamanku selama menjadi penerima manfaat beasiswa.

Sejenak, kuamati beragam ekspresi adik-adik di depanku, ada yang antusias, ada yang tidak peduli, dan ada pula yang masih belum memahami penjelasanku.

Aku memakluminya karena memang tidak semua siswa tertarik untuk kuliah, atau mungkin keadaan yang menghentikan keinginan mereka untuk kuliah. Tanpa mengurangi respect ku terhadap mereka yang ingin kerja, kujelaskan bahwa sebenarnya kuliah tak menutup kesempatan mereka untuk mencari uang.

Kuceritakan pula pengalamanku berjualan kaos kaki, kerudung, kosmetik, dan makanan ringan sembari kuliah, berharap semoga mereka tak berpikiran jika saat kuliah akan menghambat keinginan mereka untuk mencari uang.

Sayangnya, waktu kami tak banyak. Setelah sosialisasi ini murid-murid harus menghadiri kegiatan lain. Saat sesi pertanyaan kubuka, murid-murid di depanku nampak malu-malu mengutarakan pertanyaannya, meskipun kubujuk dan kurayu, tak ada satu pertanyaan pun untuk kami. Baiklah, mungkin di lain kesempatan.

Semoga mereka mendapatkan informasi ini untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya kelak saat mereka butuh. Setelah berpamitan, mereka mengucapkan banyak terima kasih karena telah mengunjungi sekolahnya. Tak lupa kami menyempatkan diri untuk mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama.

Ibrah-nya 🙂

Yang ingin kusampaikan di sini adalah jangan lelah untuk membuat orang lain bahagia, jangan mudah merasa ‘aku tak perlu melakukan itu’. Selagi ada kesempatan, lakukan saja, setidaknya kita sudah mencoba untuk menjadi sebaik-baiknya manusia, bukan? Yaitu manusia yang bermanfaat untuk yang lain.

Gaungkan pikiran dan niat yang baik, bungkam pikiran dan niat yang buruk. Semoga Allah meridhai… Aamiin.

Surabaya, 8 Mei 2018

Foto bersama beberapa peserta ERTS
(source : dokumen pribadi)
apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.