apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Farmasi Rumah Sakit, Ketelitian Di Balik Layar Covid-19

2 min read

Duniaku Maya – Langit kelabu terhampar sejauh mata memandang. Fajar baru saja berpamitan pada Bumi, tak memperdulikan asap knalpot yang sudah mengotori udara pagi. Perempuan berkepala dua itupun menguap, mengucek mata dalam kepanikan luar biasa. Sepuluh menit lagi ia harus segera check lock dan melakukan operan dengan shift malam.

Suara mesin printer memecah keheningan lobby rumah sakit. Dari kejauhan, dua Tenaga Teknis Kefarmasian tampak kerepotan. Saling berbagi tugas, mereka mencetak puluhan resep yang baru selesai diedit dengan susah payah. Betapa tanggungjawab itu luar biasa, memastikan resep sudah sesuai dengan Daftar Pemberian Obat (DPO) yang telah dikoreksi oleh apoteker rawat inap, termasuk dosis dan jadwal pemberiannya.

Tak main-main, kerja tim itu sudah diatur sedemikian apik. Apoteker rawat inap yang memiliki wewenang untuk mengintervensi terapi, berbekal pengetahuan dan sumpah profesinya, bertanggung jawab untuk memonitoring terapi dan memberikan solusi jika ditemukan Drug Related Problem (DRP) guna mencapai outcome terapi maksimal. Semua itu terdokumentasi pada dokumen Rekam Medis Pasien, termasuk Daftar Pemberian Obat (DPO) di dalamnya.

Sementara Tenaga Teknis Kefarmasian berkejaran dengan waktu untuk menyiapkan obat sesuai dengan resep dan DPO, termasuk menyiapkan etiket obat sesuai dengan jam pemberian dan mengemas obat sesuai setting Unit Dose Dispensing atau UDD.

Hanya menyiapkan, apa susahnya? Mungkin sebagian orang akan beranggapan demikian. “Farmasi Rumah Sakit kerjanya cuma nyiapin obat, nggak perlu mikir susah-susah kan?”

Medication Error bisa terjadi pada berbagai tahap, mulai dari prescribing (kesalahan peresepan) , transcribing (kesalahan penerjemahan resep), dispensing (kesalahan menyiapkan dan meracik obat), dan administration (kesalahan penyerahan / pemberian obat kepada pasien).

Ambil contoh sederhana, dokter menuliskan terapi di lembar CPPT. Pasien mengalami hipertensi sehingga dokter menuliskan terapi “Candesartan 1×1”. Sediaan Candesartan tersedia dalam dua macam kekuatan yaitu 8 mg dan 16 mg. Perawat yang bertugas meresepi obat kebetulan tidak mengetahui jika candesartan tersedia dalam dua kekuatan tersebut, sehingga ketika input resep di SIMRS, perawat asal input saja.

Pada kasus di atas, terjadi kesalahan pada dua tahap yaitu prescribing (dokter harusnya menuliskan terapi secara lengkap) dan transcribing (perawat harusnya menanyakan kepada dokter kekuatan yang diinginkan 8 mg ataukah 16 mg).

Ketika menyiapkan obat, Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) berpotensi besar melakukan kesalahan, apalagi banyak sekali obat LASA (Look Alike Sound Alike). Misalkan ternyada diinginkan obat Candesartan 8 mg, namun yang disiapkan malah Candesartan 16 mg.

Tak hanya perawat dan TTK yang rentan melakukan kesalahan, apoteker juga dapat melakukan kesalahan. Misalnya, obat yang harusnya dijeda waktu pemberiannya karena berinteraksi tapi tidak dijeda sehingga menurunkan efektivitas obat. Bisa jadi, apoteker salah mengedukasi teknik pemberian obat kepada pasien.

Apa artinya? Setiap tenaga kesehatan memiliki potensi untuk melakukan kesalahan. Farmasi merupakan profesi yang paling bertanggung jawab terhadap obat-obatan sehingga profesi Apoteker dan profesi Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) memiliki peran penting untuk mencegah adanya medication error tersebut. Ketelitian adalah mutlak.

Kesalahan-kesalahan tersebut di atas bisa dihindari jika dokter menuliskan terapi atau resep dengan lengkap, perawat membaca resep dan menginputkan resep dengan benar, farmasi menyiapkan obat dengan tepat dan melakukan double crosscheck pada proses penyiapan, pengetiketan, dan penyerahan obat.

Patut diakui, pandemi ini memang menjadi tantangan yang berat. Membludaknya jumlah pasien membuat beban kerja meningkat. Obat yang diresepkan cenderung polifarmasi sehingga DRP atau permasalahan terkait obat adalah hal yang pasti. Apoteker rawat inap harus sigap dalam memonitoring terapi, sedangkan apoteker pengadaan harus putar otak untuk memenuhi kebutuhan obat dan alat kesehatan yang mana beberapa item mulai langka.

Farmasi rumah sakit, meskipun hanya bekerja di balik layar dan sering diremehkan, meskipun diakui hanya sebagai penunjang medis, namun unit ini memang role yang sangat penting di rumah sakit. Selain sebagai penyedia obat, alat kesehatan, dan BMHP, unit ini merupakan garda terdepan berkat ketelitiannya.

Baca Juga Prospek Kerja Apoteker (Sektor Rumah Sakit)

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *