apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Kamu Pocong?

6 min read

Semburat jingga di ufuk barat memudar seiring berakhirnya adzan Maghrib. Pohon-pohon bermunajat menunduk meresapi sisa hari. Senja ini benar-benar tenang, tanpa sepoi angin yang menggoyahkan niat suci untuk mengadu pada Ilahi. Setidaknya begitulah melodi yang terangkai dari derap langkah siswa-siswi yang memenjarakan diri dan menjelma sebagai mentari kedua bagi sekolah. Olivia, Mira, Ray, Wiwin, dan Fatan. Lima sekawan calon ilmuwan yang digembar-gemborkan sebagai murid tercerdas sepanjang masa berkat penemuan bioteknologinya yang brilian.

“Liv, udahan dulu ya! Aku dan Mira izin mau sholat Maghrib. Kamu berhalangan kan?” celutuk Wiwin, ditanggalkannya jas lab biru yang membungkus seragamnya sejak pagi. Diikuti Mira yang sedari tadi asyik berkutat dengan mikroskopnya. Olivia berubah pucat.

“Kamu duluan aja, Win. Biar Mira nemenin aku dulu di sini. Iya kan, Ra?” ujar Olivia, suaranya bergetar seperti ketakutan.

 “Nanti terburu Maghribnya hilang, Liv. Si Ray sama Fatan pasti balik kok,” sahut Mira, meyakinkan Olivia bahwa kedua temannya yang sholat duluan tadi akan kembali ke lab biologi.

 “Iya sih. Tapi… aku takut sendirian di sini,” kata Olivia. Matanya liar mengawasi lab biologi yang diterangi lampu temaram.

“Hahaha… kok kamu masih percaya sama begituan sih, Liv. Ini jamannya internet, bukan layar tancep lagi,” olok Wiwin. Olivia tak peduli, ia tetap ngotot nggak mau ditinggal.

 “Kalian ingat nggak cerita Pak Hidayat mengenai legenda sekolah kita? Gedung sekolah ini bekasnya menir-menir Belanda. Semua warga sekolah sudah tahu ada yang nggak beres di sekolah kita. Ingat si Yasmin yang tiba-tiba kesurupan kemarin lusa? Dia mengaku ada penampakan genderuwo di gudang samping lab ini,” cerita Olivia panjang lebar.

“Semua tempat pasti ada penunggunya. Lagian, kamu kayak nggak kenal Yasmin aja. Dia miss ter-ngibul seantero SMA. Bisa-bisa saja itu salah satu karangan indahnya,” sanggah Mira.

“Sudahlah, Liv. Nanti kalau ada yang begituan timpuk saja pakai sepatu, pasti langsung ngibrit deh tuh setan,” ucap Wiwin.

Pasrah, Olivia melepas kepergian kedua temannya. Ia terus memandangi punggung keduanya hingga hilang ditelan kabut malam. Kini hal yang paling ditakutkannya terjadi, keadaan di mana ia harus memperkokoh keberaniannya melawan dongeng-dongeng misteri yang mendoktrin pikirannya.

Laboratorium biologi SMA Indonesia Raya bersebelahan dengan bekas gudang olahraga. Rindangnya pepohonan memeluk tempat ini, hingga cahaya matahari sulit membagi sinarnya. Alhasil tempat ini membutuhkan cahaya lampu sepanjang hari. Dari jarak lima puluh meter lab biologi sudah terdeteksi ke-abnormal-an-nya. Santer beredar cerita kelam masa lalu sekolah ini. Seorang siswa ditemukan tewas gantung diri di pohon beringin dekat lab biologi. Hingga saat ini penyebab kematiannya masih misteri. Anehnya, setiap guru yang ditanyai lebih lanjut tentang siswa ini sepakat bungkam seribu bahasa. Membiarkan kisahnya berlalu tertimbun waktu.

Olivia bangun dari lamunannya ketika suara decit pintu mengiringi sebuah bayangan mendekati lab. Bau-bau aneh tiba-tiba menyeruak, membuat Olivia pusing sekaligus paranoid. Apakah ini bau menyan? Biasanya setan suka muncul pas ada bau menyan… pikiran Olivia bergentayangan nggak jelas. Sempoyongan, Olivia bergegas bersembunyi di samping lemari praktikum. Keringat dingin membanjiri tubuhnya, bibirnya komat-kamit melafalkan doa-doa yang ia hafal sembari memejamkan matanya kuat-kuat. Hingga sebuah guncangan menyadarkannya. “Olivia… kamu kenapa?”

Olivia membuka mata teramat pelan, samar-samar ia lihat Ray di depannya dengan raut cemas.

Tanpa pikir panjang, Olivia langsung memeluk Ray erat ketakutan. Tak ada reaksi dari Ray, hingga Olivia menyadari kebodohan yang ia lakukan. Kontan Olivia melepaskannya, plus salah tingkah.

“Maaf, Ray! Refleks!” kata Olivia tertunduk, mukanya bersemu pink.

Satu detik… dua detik… tiga detik… tak ada jawaban. Olivia keki, ditatapnya Ray dengan tajam. Tak terduga, Olivia pun mundur dua langkah.

 “Ray… sejak kapan kamu pakai kacamata?” pekik Olivia.

Ray panik. “Emm, sejak hari ini. Tadi lupa nggak kupakai,” jawabnya.

“Oh…” Olivia manggut-manggut. Tiba-tiba hasrat menjahili Ray (seperti biasa) kambuh. Tangan Olivia hendak meraih kacamata Ray namun gagal, cowok kurus itu mencengkeram lengan Olivia hingga ia menjerit kesakitan.

Suara langkah kaki dipercepat terdengar semakin dekat. Olivia merintih memegangi lengannya yang memar tanpa memedulikan kondisi di sekitarnya. Saat ia hendak memuntahkan amarah pada Ray, cowok itu raib dari pandangannya. Otaknya berpikir keras, bagaimana mungkin Ray bisa kabur secepat itu? Tiba-tiba…

“Liv, kamu tadi teriak-teriak, ada apa?” tanya Fatan cemas. Disampingnya ada Ray yang juga cemas.

DEG!!! Perasaan Olivia semakin memburuk. Jadi Ray masih sama Fatan? Terus yang tadi?

“ARRRGGGHHH!!!” Olivia lari ke luar lab, membiarkan Fatan dan Ray tenggelam dalam kebingungan.

***

            Entahlah, apa yang terjadi, terjadilah. Sejak kejadian Ray palsu itu Olivia kian tak bersemangat meneruskan penelitian bioteknologinya. Olivia jadi sering melamun. Sulit sekali mengajaknya ke lab biologi. Wiwin dan Mira angkat tangan. Ray dan Fatan juga kerap mengajaknya ke lab biologi. Olivia malah kabur dan sama sekali tak memandang mereka.

            Hingga suatu hari, Olivia hadir di lab biologi setelah seminggu ia menolak memasukinya. Wiwin dan Mira yang saat itu tengah menyusun kerangka alat temuan senang bercampur heran. Olivia berjalan menunduk menuju mejanya. Mira dan Wiwin menghampirinya, mencoba menemukan arah pembicaraan yang pas. Olivia tak tahan. Diceritakannya peristiwa Ray palsu itu. Wiwin dan Mira diam seribu bahasa. Pucat!

***

Dua minggu berselang setelah kejadiaan naas itu. Olivia mulai bisa melupakannya. Bahkan ia mulai berani bertatap muka dengan Ray. Sampai suatu ketika, keberanian yang ia bangun susah payah itu roboh begitu saja. Jantungnya berdegup hebat, keringat sedingin es membanjiri tubuhnya, sendi-sendinya seperti dilolosi paksa. Sebuah surat terselip di dalam tasnya. Was-was, Olivia membacanya. Wiwin, Mira, Ray dan Fatan turut serta.

                Dear Olivia

                Maaf ya kemarin aku sudah membuatmu takut. Tapi sungguh aku tak berniat demikian. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu, tapi waktunya nggak memungkinkan. Aku harap kamu tak sungkan menemuiku di gudang samping lab biologi. Nanti sore pukul 18.15 WIB.

Tertanda

……

Kami berlima saling pandang. Hening. Hal aneh macam apa lagi ini?

 “Kamu nggak punya pilihan lain, Liv. Kamu harus menemuinya kalau kamu nggak mau dihantui terus,” ujar Mira memecah kesunyian.

“Nggak mau! Nggak akan!” tolak Olivia.

“Nggak ada pilihan lagi. Daripada konsentrasi kita terganggu gara-gara setan cemen itu, terus mimpi kita memenangkan lomba bioteknologi kandas sia-sia,” ucap Fatan emosi.

“Mungkin Olivia nggak salah. Wajar dia ketakutan. Kita nggak sedang menghadapi dosen atau professor cerdas yang bisa kita atasi dengan akal. Tapi ini… ini masalah lain. Makhluk ini mungkin tak punya pilihan selain meminta bantuan Olivia. Kita tak bisa memaksa Olivia sendirian menemuinya, tapi kita harus ada untuknya, bersama-sama memecahkan misteri ini,” ujar Ray. Semua mengamini usulan ini, kecuali Olivia.

“Aku tetap nggak mau! Lebih baik aku mengundurkan diri dari proyek ini. Biar kalian saja meraih mimpi kalian! Biar aku sendiri yang menanggung semua. Mungkin sudah takdirku…,” kata Olivia sesenggukan.

Ray menghampirinya, mencoba menenangkan hati teman setimnya ini. “Kamu nggak sendiri, Via. Kami ada untukmu. Kita nggak hanya satu tim dalam lomba ini, kita tim di segala hal. Percayalah! Kamu pasti berani menghadapinya!”

Seiring mentari yang berkemas hendak kembali ke peraduan, kelimanya serius menyusun strategi menghadapi makhluk itu. Setelah merasa yakin, mereka menutupnya dengan doa. Semoga tak terjadi hal yang tak diinginkan.

***

Pukul 18.15 WIB

Olivia sudah siap. Yah, tentunya hanya raganya saja yang siap. Jiwa Olivia tak sejalan dengan raganya. Ia duduk di belakang gudang, tepat di bawah pohon beringin raksasa. Hatinya tak henti-henti beristighfar, memohon perlindungan Allah. Ia tahu kejadian ini tak masuk akal tapi ia tak memungkiri makhluk-makhluk ghaib  itu memang ada. Empat temannya sudah siap mengintai di pos-pos yang telah direncanakan, bersiap dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Dan… Olivia menahan napas. Bau menyan mulai mengganggu indra penciumannya. Bulu kuduknya meremang. Serupa hembusan angin menyentuh tengkuknya. Olivia semakin tertunduk. Hampir menangis!

“Olivia… akhirnya kamu datang juga.” Itulah kata-kata yang tak ingin didengar Olivia. Tak kuat membayangkan apalagi melihat bentuk wajah si pemilik suara. Olivia masih menunduk dalam-dalam.

“Olivia… jangan takut! Aku tak akan macam-macam,” ulang suara itu.

Perlahan, Olivia mengangkat wajah. Dalam pikirannya sudah berjejalan segala macam rupa hantu yang buruk. Genderuwo, pocong, atau tuyul. Saat membuka mata…

“Ray?” Olivia tercekat dengan apa yang dilihatnya. Ray yang sama persis dengan yang dilihatnya dulu, dengan kacamata dan muka pucat.

“Hahaha. Kamu lucu. Sudah tahu aku hantu yang meniru Ray, masih saja dianggap Ray sungguhan.”

“Oh iya sih. Ray palsu, kamu mau apa?” tanya Olivia, mulai berani. Entahlah, ia tak setakut tadi.

“Cuma ingin lihat kamu tersenyum. Aku senang kamu bisa mengatasi ketakutanmu karena memang seharusnya itulah yang harus kamu lakukan. Ketakutanmu justru akan menghambat langkahmu. Awalnya kamu takut ikut lomba bioteknologi kan? Kamu takut gagal. Tapi aku bangga karena kamu sanggup mengatasinya. Kamu takut menemuiku di sini, tapi kamu akhirnya sanggup melawan ketakutanmu. Hanya satu ketakutan yang belum kau atasi, Via…” suaranya bergetar pada kalimat terakhir.

“Apa itu?”

“Ketakutan mengungkapkan perasaanmu pada seseorang. Kamu takut mengungkapkannya karena takut akan tersakiti jika ia tak punya perasaan yang sama, bukan? Hahaha… seharusnya kamu mengatakannya karena cowok itu juga mempunyai perasaan yang sama.”

“Maksud kamu?” Olivia mulai bingung. Atau jangan-jangan?

“Iya. Ray juga menyukaimu. Aku menyukaimu, Via… selamat ulang tahun…” Ray melepas kacamatanya, menghapus make-up yang membuatnya terlihat sangat pucat.

Dari pos-pos pengintaian, Wiwin, Mira dan Fatan membawa kue ulang tahun lalu menghampiri Ray dan Olivia.

 “Happy Birthday to you… happy birthday to you… happy birthday happy birthday… happy birthday Olivia…” mereka menyanyi bersama, tertawa geli bercampur haru.

Olivia meniup lilin berbentuk angka 17, lalu melemparnya tepat di wajah Ray. “Rasain kamu, Ray! Ini balasannya ngerjain aku!”

“Iya, iya. Maaf. Kemarin aku terlalu keras nyengkeramnya. Pasti sakit banget,” kata Ray.

“Banget! Kira-kira dikit kek kalau akting!” jawab Olivia manyun.

“Cie cie… yang abis sesuatu sama hantu! Hahaha,” ledek Wiwin. “Sori ya aku ikutan. Rencana Ray ini benar-benar seru. Aku kebagian tata rias aktornya lho. Mirip banget kan sama yang di film-film!” lanjut Wiwin. Olivia menjitaknya asal.

 “Kalau aku kebagian nulisin suratnya. Tulisan adikku cocok banget disamain sama tulisannya hantu. Hahaha,” kata Mira tak mau kalah.

 “Bagian paling penting ya aku. Menyan eyangku t-o-p banget kan!” sambung Fatan.

Mereka tertawa bersama.

“Oke deh. Kalian menang. Tapi awas ya, kalian akan aku balas!” ujar Olivia.

“Yasudah, ayo balik ke lab biologi. Sekalian aku mau membersihkan mukaku!” kata Ray sembari melangkah menuju lab biologi diikuti Wiwin, Mira, dan Fatan.

“Kalian duluan saja! Aku masih mau di sini!” ujar Olivia setengah teriak. Yah, benar kata Ray barusan. Ia hanya perlu mengatasi ketakutan yang menghalang langkahnya. Ray? Ohya, ia belum memberi jawaban pada Ray.

Olivia bangkit dari duduknya, bergegas menuju lab biologi. Akan tetapi…

“Olivia… akhirnya kamu datang juga.”

Suara itu lagi? Bukannya tadi Ray sudah? Refleks Olivia menoleh.

“Kamu pocong?” ujarnya seketika. Makhluk berbalut kain putih seperti gulingnya di kamar itu berloncatan menghampirinya. Olivia pasang kuda-kuda.

“He’eh. Aku siswa yang gantung diri di sini. Aku boleh minta nomor WA kamu nggak?”

Tanpa ba-bi-bu, Olivia menyabet sepatu di kaki kanannya, lalu menyemprot sepatu itu dengan ayat kursi. “Bismillah, kembali ke habitatmu, Setan!” Olivia menimpuk pocong itu dengan sepatunya tanpa ampun seperti saran Wiwin.

Berhasil! Si Pocong loncat-loncat ketakutan.

“Ciyus? Cantik-cantik kok sadis! Hiiiihiiihiiii…”

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.