apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Katalisator Cemburu

2 min read

“Mau kah kamu mendengar kisahku lagi malam ini, Fir?” Kuturunkan suaraku satu oktaf. Kukerjapkan mataku tiga kali lebih cepat, berusaha menahan laju bulir bening yang siap meluncur dengan kecepatan konstan.

Firza menarik napas panjang. Sedetik kemudian, ia mengganti mode video call menjadi voice call.

“Kamu jelek kalau sedang badmood begitu. Lebih baik aku fokus mendengarkan daripada terganggu sama ingusmu,” godanya.

“Terseraaah!!!” Aku mendengus kesal. “Sebentar, bagaimana kabar kamu dengan si Panji?” Selalu begitu, sebelum memuntahkan beban-beban hidupku, aku ingin menanyakan kabar Firza dan segala hubungan percintaannya yang unik.

“Biasa-biasa saja. Dua hari yang lalu, panji datang ke Yogyakarta. Kami cuma jalan-jalan kayak biasanya.”

“Kayak biasanya? Wow, setiap manusia di muka bumi ini sepertinya punya kisah uwu-nya masing-masing. Kecuali aku doang…”

Aku mulai sesenggukan. Dasar cengeng!

“Uwu apanya sih? Aku nggak melihat, mendengar, mencium, apalagi merasa ada keuwuan di kisahku!” Firza meninggikan suaranya sejenak, bermaksud menegaskan. Mungkin juga ingin menyembunyikan kerisauan.

“Jauh-jauh dari Surabaya ke Yogyakarta sebulan dua kali cuma buat ngajakin jalan kamu doang, apa nggak uwu?”

“Oke… oke… terserah kamu!” Akhirnya perempuan tangguh itu menyerah dengan ke-childish-anku.

“Hahaha…” Kuselipkan selengking tawa yang ternyata malah terdengar aneh.

“Hmm…hmm… nggak jadi nih berkisahnya?” Firza berdeham kecil, berusaha mengembalikan fokusku.

“Fir, tadi aku visite ke pasien post partum. Usianya baru 22 tahun, tapi sudah dikasih kepercayaan Allah untuk punya suami dan anak. Mana suaminya kelihatan sayang banget sama dia…” Aku mulai berceracau. “Aku sudah 25 tahun, tapi pacar aja nggak punya…”

“Terus apa lagi?” Firza menjawab datar, sembari mengunyah keripik singkong rasa balado favoritnya.

“Tiap pulang kerja, di perempatan lampu merah itu, aku selalu memperhatikan dua sejoli pakai seragam putih abu-abu naik motor ala Dilan-Milea. Cute banget. Kenapa ya pas aku SMA aku sibuk sekolah sama organisasi terus, jadinya nggak sempat pacar-pacaran. Jadi menyesal sekarang…”

“Terus apa lagi?”

“Instagram atau WA story nya teman-temanku kalau weekend pada seru-seru semua. Ada yang liburan ke pantai, main ke gunung, beli makanan enak dan mahal atau beli barang bagus di mall… Apalagi sudah banyak yang posting acara engagement, akad, resepsi–”

“Sama posting kelucuan anak-anaknya kan?” Firza memotong ocehanku. “Yang bermasalah itu hatimu. Ada yang nggak beres. Katalisator cemburunya terlalu dominan.”

“Heh? Memangnya ada? Enzim apa yang bekerja sebagai katalisator cemburu?” Aku membolakan mata, ekspresi tak terima. Tentu saja Firza tak akan mengetahui hal menyebalkan itu.

“Coba kamu ambil kaca pembesar. Perhatikan deh semut yang terlihat jalan santai dan enjoy ternyata sedang membawa remahan oreo red velvet yang bobotnya bisa dua kali lipat dari bobot tubuhnya…”

“Artinya, kamu hanya melihat suatu peristiwa dari permukaannya saja tanpa mau menganalisa dengan detail 5W+1H nya…”

“Apa sih yang membuat orang-orang itu bisa terlihat bahagia? Siapa mereka kok bisa terlihat bahagia? Kapan dan di mana mereka bisa terlihat bahagia? Kenapa dan bagaimana mereka bisa terlihat bahagia?”

“Ah, pusing, Fir! Kayak lagi ngerjain tugas Bahasa Indonesia aja…”

“Intinya, kamu salah ambil sudut pandang…”

“Apa lagi maksudmu, Fir? Sudut pandang orang pertama? Ketiga? Kesepuluh?”

“Kamu cemburu karena kamu hanya melihatnya dari sudut pandang sebagai ‘aku yang belum pernah atau tidak bisa merasakan itu semua’. Coba diganti dengan sudut pandang ‘betapa Allah Maha Baik telah menggariskan skenario hidup masing-masing hamba sesuai kebutuhannya, bukan keinginannya’. Paham?”

Aku mulai mengerti alur ceramahnya. “Jadi, katalisator cemburuku adalah aku yang belum bisa mensyukuri setiap detail nikmat ‘abcde’ hidupku termasuk paket abcde ujiannya kan?”

“Dan stop membanding-bandingkan hidupmu dengan hidup orang lain, karena nggak akan pernah menjumpai titik temunya. Selalu akan terlihat ada yang salah…”

“Coba tanyakan ini pada hati kecilmu… jika Allah menitipkan amanah berupa suami dan anak padamu sekarang, apa kamu sudah siap? Bukankah kamu sekarang masih menjadi tulang punggung keluargamu?”

“Belum siap…,” jawabku lemah.

“Coba tanyakan lagi pada dirimu, jika pas SMA dulu kamu tidak berjuang dan malah terlena dengan hubungan percintaan, apa kamu bisa survive seperti sekarang?”

“Sepertinya tidak…,” jawabku lemah.

“Lalu, apa kamu lupa jika media sosial memang tempatnya manusia berbagi kebahagiaan? Karena kesedihan itu memang seharusnya dibagikan kepada orang-orang terdekat saja. Malah, kalau bisa curhatnya ke Allah saja. Allah suka kalau kita sering berdoa… sering memohon kepada Allah…”

“Iya, Fir… kamu benar…”

“Sudah berdoa apa saja hari ini?”

“Belum berdoa apa-apa…” Aku mulai sesenggukan lagi.

“Nah, salah satu katalisator cemburu adalah kita yang sering lupa memohon dan berdoa kepada Allah agar kita terhindar dari tipu-tipu dunia…”

“Terima kasih, Firza… peluk online!”

“Yuk, ambil wudhu… sholat sunnah… terus berdoa deh!”

“Harusnya aku cemburu pada mereka yang masih bisa menjaga sholat di awal waktu meskipun sedang sibuk kerja… cemburu pada mereka yang masih bisa menjaga hapalan Al-Qur’an meskipun kerjaan sedang banyak-banyaknya… cemburu pada…”

“Cemburu pada ibu dan bapak yang tetap mencintaimu tanpa tapi padahal kamu kebanyakan mikirin cintanya anak orang… Hahaha…”

“Nampol sekali Firzaaa…”

Tamat

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *