apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Kenali dan Waspadai Efek Samping Obat Anti TB (OAT)

3 min read

Duniaku Maya – Faktanya, kasus TB di Indonesia masih tinggi. Menurut WHO, Indonesia menempati urutan ketiga tertinggi di dunia setelah India dan China. Tingginya angka penderita penyakit menular dan berbahaya tersebut dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya minimnya pengetahuan masyarakat dan berkembangnya beberapa mitos tentang penyakit tersebut.

Masyarakat umumnya beranggapan jika penyakit tersebut merupakan penyakit keturunan dan hanya menyerang kalangan menengah kebawah. Selain itu, terdapat anggapan penyakit TB tidak bisa disembuhkan, padahal pasien bisa sembuh asalkan menjalani pengobatan rutin selama 6-9 bulan sesuai petunjuk dokter.

Pengobatan yang cukup lama tersebut seringkali membuat pasien merasa bosan dalam menjalani terapinya. Ditambah dengan reaksi efek samping obat yang bisa mengganggu aktivitas. Sebelum mengenal efek samping obat TB, mari kita sedikit mempelajari tentang penyakit TB!

Definisi

Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang mengakibatkan destruksi pada paru dan kematian apabila tidak diterapi.

Apabila tidak tertangani dengan baik, maka TB paru dapat menyebar ke organ lain melalui aliran darah, atau disebut dengan TB ekstra paru. Jenis TB ekstra paru yang perlu diwaspadai adalah TB tulang, usus, dan kelenjar getah bening. TB ekstra paru biasanya bersifat tidak menular.

Patofisiologi

Infeksi diawali dengan terhirupnya droplet yang mengandung Mycobacterium tuberculosis. Jika makrofag yang ada di paru berhasil menghambat dan membunuh bakteri maka tidak akan terinfeksi. Namun jika makrofag tidak dapat menghambat maka bakteri akan masuk melalui peredaran darah dan umumnya akan menginfeksi area apikal posterior paru. Proses diatas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jumlah bakteri hidup yang masuk dan sistem imun tubuh.

Ciri-Ciri Penderita TB

Kondisi klinis yang sering terjadi adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih, demam, keringat dingin, penurunan berat badan, dan kelelahan.

Kriteria Diagnosa

Diagnosa TB meliputi :

  • Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu – pagi – sewaktu (SPS).
  • Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA).
  • Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.

Klasifikasi Pasien TB

Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis :

  • TB paru BTA positif
  • TB paru BTA negatif

Berdasarkan tingkat keparahan penyakit :

  • TB paru BTA negatif foto toraks positif
  • TB ekstra-paru

Berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya :

KlasifikasiPengertian
BaruPasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
Kambuh (Relaps)Pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB dan telah
dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA
positif (apusan atau kultur).
Pengobatan setelah putus berobat (Default)Pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan
BTA positif.
Gagal (Failure)Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
Pindahan (Transfer In)Pasien yang dipindahkan dari sarana pelayanan kesehatan yang memiliki
register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.

Prinsip Pengobatan

Prinsip pengobatan TB yaitu menggunakan Obat Anti TB (OAT) dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.

Pengobatan TB terdiri dari Fase Intensif dan Fase Lanjutan.

OAT-KDT

Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya
disesuaikan dengan berat badan pasien. Kombinasi obat yang digunakan : Rifampisin (R), Isoniazid (H), Pirazinamid (Z), dan Etambutol (E).

Paket Kombipak

Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol
yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini disediakan program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.

Kategori-1 (2RHZE/4R3H3)

Pasien dengan kategori ini meliputi pasien TB dengan BTA positif, pasien dengan BTA negatif namun foto thorax positif, pasien TB ekstra paru.

Berikut merupakan tabel panduan OAT-KDT untuk kategori-1 :

Berikut merupakan tabel panduan OAT-Kombipak untuk kategori-1 :

Kategori-2 (2RHZES/RHZE/5H3R3E3)

Pasien kategori ini meliputi pasien dengan BTA positif yang telah diobati sebelumnya (pasien kambuh, gagal, dan pasien dengan pengobatan setelah putus berobat).

Berikut merupakan tabel panduan OAT-KDT untuk kategori-2 :

Berikut merupakan tabel panduan OAT-Kombipak untuk kategori-2 :

Pasien dengan umur 60 tahun keatas dosis maksimal streptomysin adalah 500mg tanpa melihat berat badan.

TB pada Anak (2RHZ/4RH)

Prinsip pengobatan TB pada anak adalah minimal 3 obat dan diberikan selama 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari baik dalam fase intensif dan fase lanjutan. Namun dosis yang diberikan harus disesuaikan dengan berat badan.

Berikut merupakan tabel panduan OAT-KDT anak :

Berikut merupakan tabel panduan OAT-Kombipak anak :

Efek Samping OAT

Ketika meminum OAT, maka pasien kemungkinan akan mengalami reaksi efek samping obat. Jika efek samping ini muncul, maka pasien dianjurkan untuk kontrol ke dokter untuk mengatasi efek samping tersebut.

OATEfek Samping
Rifampisin (R) Gangguan gastrointestinal (seperti mual, muntah, diare), reaksi kulit, hepatitis, trombositopenia, peningkatan enzim hati, cairan tubuh berwarna oranye kemerahan (biasanya air kencing)
Isoniazid (H)Hepatitis, neuritis perifer (biasanya gejala kesemutan), hipersensitivitas
Pirazinamid (Z)Toksisitas hati, artralgia (nyeri sendi), gangguan gastrointestinal, peningkatan asam urat
Etambutol (E)Gangguan penglihatan : neuritis optik, ketajaman mata berkurang, buta warna merah-hijau, penyempitan lapang pandang. Reaksi hipersensitivitas, gangguan gastrointestinal.

Tidak diberikan pada anak-anak
Streptomisin (S)ototoksik (gangguam pendengaran), nefrotoksik (gangguan ginjal).

Kontraindikasi pada ibu hamil.

Daftar Pustaka

  • Kementrian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis
  • Peloquin C.A. dan Namdar R. 2015. Tuberculosis dalam DiPiro J.T., Wells B.G., Schwinghammer T.L. dan DiPiro C. V., 2015, Pharmacotherapy A Pathophysiologis Approach, 9th Ed.New York: McGraw-Hill Education Companies

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.