apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Kinetika Jatuh Cinta

10 min read

Kinetika Jatuh Cinta #1 : Bumi dan Rotasinya

Tepat satu tahun yang lalu, bumi yang kupijak seakan runtuh. Hidup yang kuagungkan pun berbalik menginjak-injak harga diriku. Dalam kurun waktu yang tak lama, virus jahat itu mampu memporak-porandakan apa yang sudah aku bangun berbulan-bulan. Karier. Aku tenggelam dalam samudera permainan yang aku tak tahu siapa dalangnya.

Status pengangguran berpendidikan agaknya membuatku sedikit tidak waras. Kala itu, kubulatkan tekad untuk membuktikan pada dunia jika aku bukanlah orang yang bisa dibuang begitu saja. Aku melamar di sebelas perusahaan yang tersebar di beberapa kota.

May day tahun itu membuatku meratapi rekam jejak perjuanganku. Oh Tuhan, mengapa harus aku yang menelan pil pahit ini? Masih kurangkah perjuanganku mendaki puluhan tebing curam untuk sampai di titik ini? Aku sudah sangat babak belur menghadapi monster-monster kehidupan selama lima tahun ke belakang. Apakah aku boleh meminta kebahagiaan itu menetap untuk kumiliki?

Kebahagiaan. Hanya itu yang kupinta di setiap sujudku kala menanti kabar baik dari belasan surat lamaran kerja yang kusebar.

Kini, tepat satu tahun bumiku berotasi, agaknya rotasi yang dimainkan oleh semesta itu mengantarkanku pada titik pertemuan yang tak pernah kuminta.

Sudah siapkah kau membacanya?

Kinetika Jatuh Cinta #2 : Terjebak Mesin Waktu

Kupandangi gedung hijau lima lantai itu dengan penuh optimisme. Bayangan tentang pengumuman perumahan karyawan tempo hari telah sempurna kulipat, kuremas, dan kubuang di tong sampah terdekat. Selamat tinggal masa lalu! Aku berjanji akan menjadi matahari untuk tempat ini!

Pintu lift terbuka, satu persatu manusia hilir mudik memadatinya. Protokol kesehatan adalah mutlak di rumah sakit ini, sehingga tak ayal mengantri lift pun membutuhkan durasi lebih. Ketika berhasil mendapat kesempatan masuk, aku memilih sudut yang paling nyaman. Tak kusangka, seseorang menarik jilbabku cukup kuat.

“Meira! Saraswati Meira, kan? Ngapain kamu di sini?” Wajahnya tertutup masker N95, membuatku kesulitan mengenalinya.

Awalnya aku hendak memuntahkan protes atas tindakannya yang tidak sopan. Namun, tunggu sebentar! Gestur itu nampak tak asing. Amygdalaku seketika bekerja keras.

“Aku karyawan baru di sini. Maaf, kamu siapa ya? Apa kita pernah kenal?”

“Yakin nih nggak kenal aku?”

Eh, mungkinkah dia?

Pintu lift terbuka. Kami berdua ternyata turun di lantai yang sama. Ia menarik lengan seragamku cukup tergesa, mengarahkanku ke tepian.

“Aku Dika, Mei! Mahardika Putra… Nggak nyangka akhirnya kita ketemu lagi. Satu tempat kerja pula.”

Oh, Tuhan! Drama apa lagi yang menunggu untuk kuperankan? Dia, si pemeran antagonis yang sanggup meluluhlantakkan hatiku tujuh tahun silam. Kini aku harus terjebak mesin waktu bersamanya.

“Enam tahun nggak ketemu, kamu sudah berbeda ya, Kak! Terakhir kali lihat kamu masih pakai seragam SMA padahal…”

“Mei, kamu masih manggil aku ‘Kak’ setelah apa yang sudah aku perbuat padamu?”

Aku melirik jam tanganku sekilas. Sepertinya waktu sungguhan membeku ketika kita tengah menguliti luka lama.

“Eh, btw, Mei di bagian apa?”

“Apoteker rawat inap. Kalau kamu di bagian apa, Kak?”

“Perawat ruangan Dahlia…”

Oh, semesta memang sedang menyusun skenarionya. Bukan pertemuannya yang salah. Tidak mungkin ada akibat tanpa sebab. Apakah semesta sedang ingin memperbaiki sesuatu yang terlanjur tertunda?

Kinetika Jatuh Cinta #3 : Meira Sang Pseudoplastis

Sudah sebulan lebih waktu berguguran, menciptakan beberapa teka-teki bagiku yang cukup runyam.

Ini tentang Dika. Setiap hari aku berinteraksi dengannya, kami satu ruangan. Diam-diam, aku memperhatikannya. Bocah SMA tanpa prioritas dan suka hura-hura itu menjelma menjadi sosok manly yang hangat dan penuh solusi.

Terlalu dini mengungkapkan masa laluku bersamanya. Yang jelas, aku sudah melupakan jejak-jejak masa lalu yang membuatku kerap mengutuk fisikku yang tak rupawan dan takdir hidup yang berantakan.

Yah, Meira yang dulu sudah enyah. Penggempuran oleh semesta menjadikanku seperti baju baja yang dingin, ambisius, kaku dan tidak menyenangkan untuk dijadikan sebagai teman.

Thats my big problem now. Aku rasa, hanya Dika yang bisa mendengarkan keluh kesahku.

Hampir jam satu siang hari, waktu istirahat tiba. Kutengok sekilas, Dika sedang menulis rekam medis di nurse station. Dia menyambutku dengan gesturnya yang khas.

“Jadi, ada apa nih, Mei?”
“Lingkunganku tidak menerimaku dengan baik, padahal sebenarnya maksudku baik. Mungkin karena karakter dan cara berkomunikasiku, aku terlihat arogan…”
“Mereka hanya belum mengenalmu dengan baik. Be yourself! Perkara mereka menerima atau tidak, kamu tidak bisa menyenangkan semua orang, kan?”
” I know, tapi itu seperti menjadi boomerang buatku. Aku jadi sulit berkoordinasi.”
“Buat introspeksi. Kamu ingin mengubah dirimu sejauh apa? Penting untuk menerima masukan, tapi jangan jadikan itu sebagai beban. Let it flow, semata-mata untuk membangun komunikasi efektif…”

Aku terdiam, menatapnya cukup lama.

“Prinsip rheologi mengatakan, viskositas pseudoplastis berkurang seiring meningkatnya rate of shear. Itulah mengapa kau harus mengocok botol saus kuat-kuat untuk mengeluarkan isinya,” ujarku.

Aku refleks menggenggam jemarinya. Dika nampak terkejut.

“Tipe aliran thiksotropis yang terbaik, yang mana konsistensi tinggi saat dalam wadah (tidak mengendap) dan menjadi cair jika dikocok sehingga mudah dituang,” lanjutku semakin berapi-api.

Dia balik menggenggam erat jemariku.
You do you, Meira!”

Kinetika Jatuh Cinta #4 : Reseptor Meissner

“Aku mau mengajukan resign,” ujarku tanpa babibu, padahal kami baru saja sampai di kantin rumah sakit.

Dika malah terkekeh. “Baru juga kerja enam minggu, kok udah main mundur begini. Si Pseudoplastis gagal menjadi thiksotropis, nih?”

“Aku sudah mencoba membaur sebisaku, tapi mereka tetap sulit menerima kehadiranku,” jelasku sembari memainkan daftar menu. “Lagian, aku sudah lolos seleksi di sebuah rumah sakit milik BUMN. Mungkin, aku akan lebih baik di sana.”

“Wah, selamat, Meira!” Tak kusangka responnya bakal seminimalis itu.

“Jadi, bagaimana menurutmu, Kak? Lebih baik aku resign, kan?”

Laki-laki seperempat abad itu hanya mengedikkan bahu, lantas memainkan ponselnya, terlihat menelpon seseorang. Tiba-tiba ponselku bergetar, panggilan suara Whatsapp : Mahardika Putra.

Aku melotot, bermaksud mengomeli perawat itu secara nonverbal. Dia malah balik melotot dan mengisyaratkan agar aku mengikuti permainannya.

“Halo, bisa bicara dengan Mbak Saraswati Meira?”
“Apaan sih, Kak!”
“Wah, bisa minta tolong bicara dengan Mbak Meira? Ini urgent. Cito!”
“Ada apa?”
“Bilangin ke Mbak Meira… psssttt… Ini rahasia ya!”
“Kakkk!!!”
“Bilangin ke Mbak Meira… Jangan pergi! Di sini saja! Ayo berjuang bareng-bareng!”
“Si Meira sudah lelah di sini…” balasku sembari agak berteriak, sengaja ingin balik mengerjainya.
“Kalau kamu pergi, itu artinya kamu menyerah. Kalau kamu menyerah, artinya kamu kalah. Kalau kamu kalah, artinya kamu bukan Meira yang asli. Mana, kembalikan Meira yang asli!”

Akhirnya aku terkekeh juga. Sungguh, cowok ini tidak pernah berubah untuk urusan kerecehan.

“Jangan gegabah mengambil keputusan. Lihat efek jangka panjangnya. Jangan sampai kamu menyesal kalau terlanjur resign dari sini,” Dika mematikan sambungan telfon. “Mei, aku balik jaga dulu ya!”

Ia beranjak pergi, tanpa menoleh lagi, tanpa sempat memesan makanan.

Jika ada reseptor meissner di hati, kurasa ia akan bekerja keras saat ini, mencoba meraba apa yang sebenarnya terjadi.

Tunggu! Oh tidak, aku lupa! Apakah ada hati perempuan lain yang harus kuhargai dan kujaga?

Kinetika Jatuh Cinta #5 : Dika dan Profilaksisnya (1)

Menjadi seorang tenaga kesehatan bukan perkara mudah. Kau harus siap menjadi pembelajar sejati alias long life learner. Kau bisa belajar banyak hal baru dari berbagai profesi karena sejatinya tenaga kesehatan saling berkolaborasi untuk mendapatkan outcome terapi maksimal.

Menjadi apoteker rawat inap yang memegang kendali penuh atas obat-obatan adalah sebuah tanggungjawab besar. Kau tidak boleh salah karena kau yang dipercaya dan diandalkan, apapun itu terkait obat.

Itulah mengapa aku sering berinteraksi dengan perawat. Kami sering berdiskusi dengan topik ringan hingga berat. Hal itu juga yang membuatku cukup dekat dengan profesi tersebut.

“Kak Mei, Diphenhydramine injeksi bertahan berapa lama setelah dibuka?”
“Kak Mei, clopidogrel dan aspilet nya boleh diminum bersamaan?”
“Kak Mei, infus Aminofluid-mu kosong, coba cari subtitusinya!”
“Kak Mei, pasien X bawa obat dari rumah. Coba di-visite deh…”
Dan masih banyak lagi.

Suatu ketika, Dika datang tergopoh-gopoh menghampiriku di ruangan apoteker. Dia nampak sedang kacau.
“Hei, ada apa? Are you ok?”
“Meira, koreksi jika aku salah! Pasien aritmia major, DPJP memberikan advice Lidocaine 3 mg/menit rute syringe pump…”
“Habis dalam berapa jam?”
“2 jam…”
Kuambil pena dan secarik kertas, kemudian mulai menuliskan perhitungan.
“Dalam dua jam butuh Lidocaine 360 mg. 1 ampul sediaan berisi 40 mg, berarti butuh 9 ampul. Setting alat 9 mL/jam…”
“Oke, makasi banyak. Kapan-kapan aku traktir mie ayam!” tanpa basa basi, dia kembali lagi ke ruang pencampuran obat.

Sialnya, itu adalah salah satu adegan dari sekian banyak adegan “perjanjimanisan” yang tak kunjung terlaksana. Ketika aku mencoba menagihnya, dia punya seribu satu alasan sebagai profilaksisnya.

“Sorry, Mei. Aku sedang ada on-call…”
“Sorry, Mei. Aku mau futsal sama temen-temen…”
“Sorry, Mei. Aku harus belajar untuk ujian PK…”

Dika dengan profilaksisnya, sementara Meira dengan kinetika reaksi orde 0 nya, dimana laju reaksi persatuan waktu konstan dan tidak dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya konsentrasi.

Kinetika Jatuh Cinta #6 : Dika dan Profilaksisnya (2)

“Kamu pernah baca quotes yang lagi viral di dumay gak sih, Meira?” tanya Citra.

Kami sedang meet up di sebuah kafe estetik di tengah kota. Citra, sahabatku yang sudah malang melintang di kehidupan percintaanku yang tak pernah beralur bahagia. Kami sudah berteman selama tujuh tahun.

“Quotes apaan?”
“Dia hanya sedang bercanda. Harusnya kamu tertawa, bukan malah jatuh cinta. Hahaha…” Citra terbahak, sementara aku cuma bisa manyun.
“Aku percaya dia orang yang baik,” sanggahku.
“Iya, baik ke semua orang!” Citra menepuk-nepuk bahuku.
“Kamu belum kenal aja sama dia, Cit!”
“Memangnya kamu kenal dia?”
“Tentu!” jawabku meyakinkan.
“Dari semua momen-momen yang kamu ceritakan kepadaku, apa kamu nggak sadar kalau dia cuma manfaatin kamu doang?” Citra mendelik gemas.

Aku menggeleng. “Aku nggak merasa dimanfaatin. Aku malah senang kalau dia butuh bantuanku. Itu kan artinya aku berarti buat dia…”

Citra mengepalkan jemarinya, meninju udara. Mungkin sudah tidak sanggup meladeni kepolosanku.

“Oke, Mei. Terserah kamu! Hati kamu sudah dikutuk jadi batu kayaknya. Kenapa sih susah banget dibilangin? Kamu nggak seharusnya jatuh cinta ke dia lagi! Nggak cukup apa yang terjadi di masa lalu kamu?”

“Aku percaya setiap manusia punya kesempatan kedua…”

“Oke… Oke… Sekarang, apakah dia pernah melakukan hal yang sama dengan yang kamu lakukan ke dia?” kali ini intonasinya mulai melunak.

“Aku nggak butuh dibalas,” jawabku lemah.
“Lalu?”
“Aku cuma butuh dianggap. Bahwa dari sekian milyar manusia bumi, ada aku yang selalu kerepotan berpura-pura untuk tidak memperhatikannya padahal aku senang melakukan hal itu.”

“Fix, Meira. Kamu butuh Haloperidol!”

Kinetika Jatuh Cinta #7 : Kinetika Reaksi Orde 0

Tak hanya Citra, akupun sering menyelami palung kosong bernama hati. Sedalam apakah aku mencintainya hingga tak kubiarkan ada ruang untuk menyimpan pikiran buruk tentangnya?

Tak hanya Citra, mungkin semesta sudah geram dengan pilihan takdir yang membelit akal sehatku. Tak bisakah nukleus-dendrit-akson-dkk itu bekerja baik agar aku lebih waras menghadapi seorang pria bernama Dika?

Jika saat jatuh cinta perempuan lain bisa menggunakan kinetika reaksi orde 1 atau orde 2, yaitu laju reaksi sebanding dengan konsentrasi, mengapa aku memilih orde 0? Laju reaksi persatuan waktu konstan dan tidak dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya konsentrasi.

Sejahat-jahatnya Dika, selalu ada kata maaf untuknya. Selalu ada hati yang lapang untuk menerima segala hal tentangnya.

Entahlah, aku sudah lelah dengan drama yang kuperankan. Semesta sedang tertawa sinis sekarang, menyindir anak manusia yang tidak mau belajar dari rentetan kejadian yang membelenggu hati dan harinya.

“Sederas-derasnya hujan, akan ada saatnya untuk reda. Sedalam-dalamnya hidup menggores luka, akan ada saatnya untuk sembuh. Kamu hanya butuh orang yang tepat dan sabar yang kuat. Biar waktu yang bermain peran.”

Aku hanya percaya, keajaiban itu ada.

Kinetika Jatuh Cinta #8 : Code Blue (1)

Meira dan baju besinya telah sempurna raib. Yang tersisa hanya seonggok tubuh mirip zombie yang menjalani hari tanpa mengenal matahari.

Ketika kau sudah tidak punya alasan untuk bertahan, maka kau pun kehilangan pondasi untuk mengambil keputusan. Segalanya berubah menjadi abu-abu dan terlalu menakutkan.

Ini bukan hanya tentang Dika yang berubah datang dan pergi sesuka hatinya. Ini bukan hanya tentang penolakan lingkungan yang membuatku terkesan menjadi sosok antagonis. Ini tentang semesta yang membuka tabir agar aku segera membuat keputusan : bertahan atau meninggalkan.

Sebuah DM Instagram dari seseorang tak dikenal siang itu membuat langit abu-abuku akhirnya runtuh. Dia membagikan instastory seorang perempuan, sedang bermesraan dengan Dika di sebuah kafe.

“Sudahlah, tinggalin Dika”, tulisnya.

Paras perempuan cantik itu tak asing bagiku. Dia seorang perawat di ruangan Dahlia, ruangan tempatku dan Dika bertugas.

Perempuan yang pernah membuatku bertanya-tanya tentang sikapnya yang selalu dingin kepadaku tanpa sebab.

Perempuan yang selalu mengalihkan perbincanganku dengan Dika dengan berbagai alasan.

Perempuan itu yang ternyata harus kuhargai dan kujaga hatinya.

Kinetika Jatuh Cinta #9 : Code Blue (2)

Dering lonceng code blue menggema di ruangan Dahlia. Seorang perawat baru saja menelepon tim code blue untuk segera datang. Sementara rekan perawat yang lain segera mengambil peralatan BLS dan Emergency Box.

Code blue, kondisi gawat darurat yang terjadi dimana terdapat pasien mengalami cardiopulmonary arrest.

“Dik, RJP!” Rika menginstruksikan Dika untuk segera melakukan RJP setelah mendapat persetujuan dari pihak keluarga. Layar monitor menunjukkan nilai vital sign yang semakin memburuk.

“Epinefrin masuk,” perintah seorang dokter tim code blue. Situasi hidup dan mati itu membuatku mundur beberapa langkah, terlebih saat menyaksikan sebuah impuls yang perlahan menurunkan tingkat kesadaranku.

Code blue berakhir, pasien dapat diselamatkan. Tim code blue beranjak, hanya tersisa Dika dan Rika di sana, merapikan beberapa alat.

“Kamu hebat, terima kasih, Sayang!” Tak kusangka, Rika memeluk Dika teramat erat. Keringat dan air matanya semakin mendramatisir suasana.

Aku memutuskan segera lenyap dari tempat itu. Berusaha mengatasi code blue ku sendiri yang nampaknya butuh lebih banyak epinefrin.

Kinetika Jatuh Cinta #10 : Amygdala Hijacking (1)

Terjadi badai hebat di lobus temporalis-ku, tepatnya di sistem limbik berbentuk kacang almond : amygdala. Dengan kurang ajarnya, amygdala dan hippocampus itu memutar memori kelam tujuh tahun silam, saat Meira dan Dika remaja terjebak pada situasi emosional.

***

Hamparan rumput sepanjang mata memandang, hanya ada Sosok Dika yang terekam retinaku tanpa jeda. Seragam putih abu-abunya compang-camping, penampilan khas bad boy pada zaman itu. Dia tertawa renyah, sembari menepuk-nepuk pundak rekan sepermainannya. Dia kembali antusias menggiring bola menuju gawang lawan. Begitulah Dika, selalu santai menghadapi hidup. Alih-alih mengerjakan PR matematika yang harus dikumpulkan.

“Meira, kamu nonton aku main bola kan tadi?” bisiknya tiba-tiba.

Seperti maling kepergok warga, aku yakin jerawat-jerawat kepanikan segera menyembul di mukaku.

“Nggak lah. Ngapain. Buang-buang waktuku aja! Lagian, kamu udah ngerjain PR mu belum?” Aku berusaha mengalihkannya.

“Eh, ada PR apa?” gantian mukanya berubah panik.

“Nih, cepetan sana kerjain! 30 menit lagi pasti Pak Bernand datang. Aku nggak mau ada yang kena strap lagi nanti…” ocehku sembari menyodorkan buku PRku.

Binar matanya adalah satu hal yang kutunggu-tunggu. Biarpun setelahnya, aku harus berpura-pura terlihat baik-baik saja, padahal dia sedang mendekati sahabatku, dengan bermodalkan buku PR matematikanya. Ah, kocak sekali kau, Dika!

Sialnya, aku membiarkan siklus itu terjadi berulang hingga penghujung masa SMA kami.

Suatu ketika, aku harus menyaksikan sebuah adegan romantis bagi kebanyakan siswa, namun tak ubahnya sebagai mimpi buruk yang membunuh kepercayaandiriku.

Dika dan sahabatku resmi berpacaran.

Kinetika Jatuh Cinta #11 : Amygdala Hijacking (2)

Semuanya berlalu dalam bingkai kewajaran. Aku pun sudah hampir melupakan perasaanku pada Dika, meskipun aku harus kehilangan banyak hal, termasuk ikatan pertemanan yang memudar.

Sampai suatu ketika, Dika mengobrak-abrik meja sahabatku. Senyumnya yang hangat itu berubah menjadi raut yang membara. Tersulut emosi. Semua yang ada di kelas pun tersabit tanda tanya. Ada apa?

“Apa mau kamu sekarang, hah? Aku tidak serendah itu untuk menjadi pacarmu yang kesekian!” makinya. Sahabatku tak berkutik.

Dari bisik-bisik yang kudengar, sahabatku ternyata selingkuh. Dika marah besar. Aku tak cukup pandai menilai keadaan. Setahuku, aku pun marah pada takdir yang terlihat serba tidak adil. “Aku yang selalu ada saat kau butuh bantuan harus kalah dengan dia yang rupawan.”

Saat wisuda, aku dan Dika tak banyak bicara. Kami hanya saling melempar ucapan selamat sembari tersenyum sekenanya. Hanya saja, kurasa tatapan itu mengisyaratkan sesuatu yang membingungkan. Tapi apa? Aku terlalu pengecut untuk bertanya.

Nampaknya, Dika juga sama pengecutnya. Dia menitipkan secuil kertas kepada temannya untukku.

“Meira, terima kasih kamu sudah mencintaiku dalam diammu. Maaf, aku bukan orang yang tepat untuk membalasnya…”

Sudah saatnya Meira menutup album putih abu-abunya.

***

Lebih baik melepaskan yang tidak ingin digenggam. Lebih baik berjalan seorang diri daripada beriringan dengan bayangan. Lebih baik diam dan menyingkir, membiarkan waktu menghapus tanda tanya yang tak pernah terjawab.

Kinetika Jatuh Cinta #12: Amygdala Hijacking (3)

Amygdala hijacking, pembajakan amygdala, adalah istilah saat amygdala mengambil alih mekanisme berpikir rasional yang sebelumnya dikendalikan oleh Medial Pre Frontal Cortex (MPFC). Itulah yang kualami setelah badai emosi itu menerjang.

Ketika menghadapi ancaman, kita hanya bisa melakukan 3 hal : fight, freeze, dan flight. Apa aku harus menyerang rasa traumaku untuk terlihat baik-baik saja? Apa aku harus diam dan membiarkan ini menjadi luka baru? Atau, apa aku harus lari sejauh mungkin dari sumber traumaku?

“…Maaf, aku bukan orang yang tepat untuk membalasnya…”

Mengapa kamu tidak berusaha menjadi orang yang tepat, kalau begitu? Apa aku seburuk itu untuk diperjuangkan? Ah, amygdala… tolong jangan berulah!

Setelah beberapa hari mempertimbangkan banyak hal, hari ini aku mengemasi barang-barangku dan menyerahkan surat pengunduran diri kepada SDM.

Dengan menghirup udara segar tanpa ada aroma kepedihan, aku yakin keputusan ini adalah yang terbaik. Karierku mungkin hancur di sini, tapi semoga aku bisa membangunnya kembali di tempat lain.

‘Kinetika reaksi orde 0’ ku sementara kusimpan, akan kugunakan untuk orang yang tepat. Entah, untuk siapa, di mana aku menemukannya, dan kapan aku boleh mencicipi kebahagiaan yang kuinginkan itu. Semoga masa depan yang menjawab, bukan lagi masa lalu.

Aku menemui Dika di ruang Dahlia. Tidak ada Rika di sana. Ah, untunglah…

“Terima kasih untuk obat pahitnya. Aku pamit, mengundurkan diri,” kataku sembari menyodorkan secarik salinan surat pengunduran diri.

Dika terkejut dengan keputusanku yang terlalu mendadak, terlebih mataku sembab.

“Mei, aku minta maaf…” Dika meraih tanganku, menggenggamnya erat.
“Aku yang minta maaf. Tak seharusnya aku ada di sini…”
“Aku yang salah. Aku sudah mencoba mencintaimu, tapi aku nggak bisa…”
“Aku yang salah, Kak. Aku pamit ya!” Aku berusaha melepaskan genggaman itu, tapi Dika mencegahnya.
“Jangan paksakan genggamanmu, Kak! Aku hanya butuh ketulusan, bukan rasa kasihan…”

(Tamat)

Baca juga artikel menarik lainnya :

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *