apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Menulis Ala Penulis A. Fuadi

1 min read

Duniaku Maya – Sudah lama nian jemari ini tak menyapa tuts-tuts keyboard laptop, menyapukan mata ke layar putih, mengerjap-ngerjap sambil diburu ide yang terus melaju dengan percepatannya.

Halo, dunia lamaku, dunia yang menuntunku meraih mimpi-mimpiku. Dunia yang dengan sabar membentuk namaku! Sudah sekian waktu, aku dijerat dunia baru, dunia farmasi yang menyita hampir seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan minatku.

Plakkk! Bagai ditampar dengan keras, hari ini, aku meneguhkan hati, berkomitmen untuk membangun dunia yang sudah tertimbun dunia farmasi-ku, lewat nasihat bijak penulis favoritku, Ahmad Fuadi.

Aku mengikuti seminar kepenulisan di Kampus C UNAIR dengan guest star A. Fuadi, penulis novel fenomenal yaitu trilogi “Negeri 5 Menara”.

Alhamdulillah, betapa gemilang hari ini. Aku bisa bertemu beliau langsung! Padahal dulu, saat dulu, kelas 10-12 SMA karya-karyanya hanya bisa kubaca, kutanamkan dalam prinsip hidup, dan kuyakini tanpa secuilpun keraguan.

Pada kesempatan ini, beliau membagikan beragam tips menulis novelnya yang menembus level mega best seller. Tak mau  kehilangan secuilpun fragmen nasihatnya, mataku berbinar, penaku kugores cukup ugal. Betapa beliau kaya akan inspirasi dan teknik menulis yang brilian!

Mengapa Harus Menulis?

Menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan komitmen dan konsistensi besar. Asal kita mau berlatih menulis tiap hari, melatih otot menulis kita agar kita leluasa menggerakkannya.

Mengapa harus menulis? “Menulislah jika Anda ingin dikenang.” Tulisan kita akan tetap hidup walau raga kita sudah tak ada karena “tulisan lebih kuat dari peluru, ia akan tetap tinggal dalam pemikiran tak hanya satu, bahkan berpuluh orang yang membacanya.” Begitulah beliau membagi semangatnya kepada kami.

Modal untuk Menulis

Apakah modal utama seorang penulis? Modal utama penulis adalah setangakai pena, secarik kertas, dan sebongkah hati.

“Menulislah dengan hati jika ingin pembaca merasakan apa yang kamu ingin sampaikan.”

Sebelum menulis, kita harus memenuhi komponen-komponen dasar menulis. Apa saja ya?

1. Why

Mengapa kita harus menulis hal tersebut? Apakah alasan utama yang mendasarinya? Apa motivasi kita? Apa sekedar menghibur? Apa untuk mencari nama? “Khoirunnaas anfauhum linnaas”, akan lebih baik jika kita niatkan menulis untuk menjadi sebaik-baik manusia, yakni bermanfaat untuk orang lain.

2. What

Ibaratnya ber-travelling, tanpa tahu tujuan wisata kita, travelling itu tidak akan berkesan, buta arah, tak tahu mana yang harus dituju, menulis pun demikian, tanpa kita tentukan tema atau hal apa yang akan kita tulis, arah dari tulisan kita juga tidak jelas, tidak enak dibaca.

“Tulislah apa yang kamu kuasai, apa yang kamu familiar dengannya, apa yang dekat denganmu…”

3. How

Secara teknis menulis, jangan ragu-ragu untuk melakukan riset karena riset menentukan kualitas tulisanmu. Riset bisa berdasarkan buku pembanding, buku diary, foto, rekaman, dll. Perbanyak membaca referensi dan pandailah membaca hal yang berbeda dari pasar.

4. When

Waktu yang paling ampuh untuk menulis adalah setiap hari, di manapun dan kapanpun, sempatkanlah menulis walau hanya selembar. “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi buku.”

Bagaimana Memulai Sebuah Tulisan?

Jika saya sudah memiliki dasar yang kuat dan memenuhi semua komponennya, lantas bagaimana caranya memulai sebuah tulisan?
Buatlah mind maping –> kerangka tulisan–> pointer–> kembangkan pointer menjadi detail yang lebih rinci.

Tips Menulis Ala A. Fuadi

Diamkan tulisanmu sejenak. Baca dan baca ulang tulisanmu. Jangan ragu untuk menulis ulang tulisanmu karena 90% tulisanmu yang pertama adalah sampah. Semakin kamu membaca tulisanmu, kamu akan mengetahui titik-titik kesalahanmu.

Selalu lengkapi tulisanmu dengan riset yang bermutu. Sekali lagi, saat kau menulis dengan marah, pembacamu juga akan merasakan kemarahanmu. Saat kau menulis dengan bahagia, tanpa beban, maka pembacamu juga akan membacanya dengan bahagia, tanpa beban pula.
“Menulislah dengan hati…”

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.