apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Mini Story #3 Orang Dalam Pemantauan

1 min read

Duniaku Maya โ€“ Aku, seorang apoteker klinis yang menghabiskan tujuh jam dalam sehari untuk pasien : menganalisa terapi, melakukan rekonsiliasi, dan mengedukasi. Namun juga seringnya dibenturkan pada berbagai dinamika hidup mereka yang kadang membuatku menganalisa lebih.

Dari balik lensa cekung ini, aku mencoba memaknai bayangan-bayangan kehidupan yang datang silih berganti.

***

Covid-19. Aku tak menyangka jika pesan berantai di grup whatsapp tentang kewaspadaan pada pneumonia Wuhan Januari silam telah sempurna menjadi mimpi buruk sekarang. Aku dulu mengabaikannya.

Saat presiden mengumumkan kasus Covid-19 pertama dan kedua di Indonesia, aku juga masih menganggapnya remeh. Ah, itu semacam flu. Pasti bisa sembuh. Namun aku salah besar, nyatanya virus ini membawa kekacauan besar di negeri ini, juga di kehidupanku.

Atmosfer kepanikan mulai melanda rumah sakit tempatku bekerja, saat gubernur Jawa Timur membagikan informasi tentang peta persebaran ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), dan pasien positif Covid-19 di Jawa Timur. Seketika surgical mask menjadi barang yang teramat langka. Rumah sakit kewalahan memenuhi kebutuhan masker medis.

Sore itu, seperti biasa, aku merampungkan pekerjaanku, mengisi dokumen rekam medis pasien yang baru Masuk Rumah Sakit (MRS). Kala itu pasien sedang banyak-banyaknya sehingga seorang rekan apoteker membantuku karena pekerjaannya sudah selesai.

Selepas visite ke pasien, kami mulai menulis hasil rekonsiliasi obat dan pharmaceutical care plan di rekam medis pasien. Namun, seorang perawat terlihat kaget mendengar instruksi dari telfon yang dia terima. Akupun menanyakan apa yang terjadi. Perawat itu bilang jika DPJP menelfonnya untuk merujuk pasien A dan pasien B yang terduga ODP ke RS rujukan di kabupaten Pasuruan.

Sontak rekan apoteker yang membantuku cemas. Pasalnya ia baru saja mengunjungi kedua pasien tersebut dan hanya mengenakan surgical mask tanpa APD lain. Kami lantas mencoba berprasangka baik agar kami tidak semakin panik.

Sepulangnya di rumah, seorang teman perawat membagikan fotonya mengenakan APD ala kadarnya, mulai dari face shield dari kertas mika, sepatu boot, hingga jas hujan. Ia pun membagikan kesannya mengenakan APD darurat tersebut. Sesak, panas, pengap… katanya.

Rasa tidak nyaman tersebut tak lantas membuatnya lari dari tanggungjawab ptofesi keperawatannya. Ia pun melakukan tugasnya meskipun was-was dengan risiko buruk yang mungkin saja bisa ia dapatkan ketika bekerja.

Sejak saat itu, aku semakin waspada dalam melakukan tugasku. Meskipun rumah sakit tempatku praktek bukan rumah sakit rujukan covid-19, namun aku dan rekan-rekan medis tidak mengetahui dengan pasti risiko dari tiap pasien yang kami rawat. Ah, doakan kami! ๐Ÿ™‚ Semoga pandemi ini segera berakhir.

Ohya, pihak managemen Rumah Sakit beserta tim penanggulangan KLB juga sudah sangat bersusah payah menyediakan APD yang layak untuk paramedis maupun karwayan RS lain.

Selain itu, banyak upaya yang sudah dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 seperti menerapkan social distancing pada ruang tunggu pasien rawat jalan maupun pada rawat inap (membatasi pengunjung rumah sakit), membuat desinfectant chamber, dan memberikan susu kemasan serta suplemen vitamin untuk semua karyawan.

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.