apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Obat Mata Kering (Dry Eye)

3 min read

Duniaku Maya – Mata merupakan jendela dunia. Jika organ tubuh yang sangat penting ini mengalami gangguan, bisa mengganggu bahkan menghambat aktivitas. Cuaca yang panas dan polusi udara yang melewati batas turut memperparah gangguan penglihatan, salah satunya menyebabkan mata menjadi kering atau dry eye.

Dry eye syndrome (sindroma mata kering) adalah penyakit dengan gejala berkurangnya cairan air mata dan gangguan pada permukaan mata akibat perubahan permukaan epitel sehingga menurunkan jumlah air mata dan sensitifitas permukaan mata. Hal tersebut dapat menyebabkan reaksi inflamasi (peradangan).

Kenali Gejalanya

Gejala utama adalah rasa kering dan berpasir pada mata. Gejala tambahan yaitu rasa panas atau gatal, sensasi seperti adanya benda asing, produksi air mata berlebihan, nyeri, kemerahan, dan fotofobia. Selain itu, dapat diikuti dengan gangguan penglihatan dan memburuk saat kelembapan rendah dan suhu tinggi.

Dry eye disebabkan oleh adanya hiperosmolar pada air mata, yakni akibat penurunan aliran air mata (low lacrimal flow). Hal ini terjadi karena kegagalan kerja kelenjar lakrimal dan peningkatan penguapan cairan air mata. Salah satu penyebab peningkatan tersebut adalah keadaan lingkungan dengan kelembapan rendah yang menyebabkan ketidakstabilan lapisan air mata.

Berdasarkan gejalanya, dry eye dikategorikan menjadi ringan, sedang, dan berat. Dokter akan menentukan diagnosa berdasarkan gejala klinis yang nampak dan serangkaian tes seperti pemeriksaan klinis segmen anterior mata termasuk kelopak, sistem lakrimal, konjungtiva, epitel kornea, serta tekanan intraokuler.

Pilihan Terapi

Tatalaksana terapi dry eye dikategorikan menjadi :

Terapi Topikal

Obat-obatan topikal yang dapat digunakan diantaranya air mata buatan (artificial tears) dan obat anti inflamasi.

1. Artificial Tears

Penggunaan obat ini bertujuan untuk menurunkan osmolaritas air mata, mencuci mata dari produk pro-inflamatory, dan melindungi permukaan mata.

Sediaan tetes tanpa pengawet dikemas dalam bentuk kemasan unit dosis tunggal (single dose). Kemasannya digunakan tabung kecil atau ampul plastik. Biasanya sediaan dapat digunakan hingga 3 x 24 jam setelah dibuka.

Sedangkan sediaan tanpa pengawet unit dosis ganda (multiple dose) berupa kemasan botol 10 ml yang dapat digunakan selama 28 hari setelah dibuka.

Frekuensi penggunaan artificial tears biasanya dua kali sehari sedangkan untuk artificial tears bebas pengawet adalah empat kali sehari.

Beberapa bahan aktif yang termasuk artificial tears adalah sebagai berikut:

Metil Selulosa (MC)

Metil selulosa (MC) memiliki tegangan permukaan rendah sehingga membantu mempertahankan kelembapan epitel kornea. Sediaan ini biasanya digunakan untuk mata kering ringan.

Sediaan Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC) dan Karboksi Metil Selulosa (CMC) bersifat kental, menyebabkan menurunnya penguapan air mata dan meningkatkan tegangan permukaan. Hal ini menyebabkan waktu retensi pada permukaan lebih lama sehingga meningkatkan stabilitas air mata.

Kekurangannya, sediaan yang kental menyebabkan penglihatan menjadi kabur sementara, sehingga harus hati-hati jika digunakan pasien yang sedang mengemudi atau mengoperasikan mesin.

Contoh merk yang mengandung bahan ini adalah Eye Fresh Mild® , Eye Fresh Plus®, Lubricen® gel, Lubricen®, Cenfresh® .

Polivinil Alkohol (PVA) dan Polivinil Pirolidon (PVP)

PVA digunakan untuk pasien dry eye tingkat sedang dan berat terutama pada pasien yang mengalami penurunan lapisan musin secara alami.

PVA dapat menurunkan osmolaritas, meningkatkan stabilitas air mata, dan membantu mengatur kembali tonisitas air mata.

Polivinil pirolidon (PVP) merupakan polimer hidrofilik dengan struktur yang hampir sama dengan PVA. PVP sangat ideal digunakan sebagai agen pelumas untuk artificial tears karena tingkat konsistensinya yang baik.

Contoh merk yang mengandung bahan ini adalah Protagenta ®.

Karbomer

Karbomer yaitu polimer asam poliakrilat, memiliki waktu retensi lebih tinggi yaitu 14 menit dibandingkan PVA yang 2 menit. Peningkatan waktu retensi ini dapat mengurangi frekuensi penggunaan khususnya untuk pasien dry eye tingkat sedang dan berat.

Penggunaan karbomer dosis besar dan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan iritasi mata. Efek samping langsung setelah penggunaan adalah menyebabkan penglihatan kabur sementara. Oleh karena itu karbomer banyak digunakan pada malam hari.

Contoh merk yang mengandung bahan ini adalah Vidisic® gel.

Sodium Hyaluronat

Sodium hyaluronat dapat menghilangkan rasa terbakar, iritasi dan ketidaknyamanan yang disebabkan karena kekeringan pada mata. Selain itu, bahan ini memiliki duration of action yang panjang.

Kekurangan dari sodium hyaluronat adalah menyebabkan penglihatan kabur pada awal pemakaian namun akan berangsur-angsur hilang.

Contoh merk yang mengandung bahan ini adalah Hialid® , Hyalub® ,

2. Obat Anti Inflamasi Topikal

Kortikosteroid adalah immunosupressor poten, yang dapat menghambat banyak jalur inflamasi. Terapi kortikosteroid efektif untuk pasien dengan mata kering berat yang tidak didapatkan perbaikan dengan terapi topikal air mata buatan.

Konsultasikan dengan dokter spesialis mata jika akan menggunakan obat ini karena terdapat beberapa efek samping yang perlu diperhatikan, seperti mata merah, risiko glaukoma steroid, dan risiko katarak steroid (jika digunakan jangka panjang).

Menurut PIONAS BPOM, kortikosteroid efek lokal (tetes mata maupun salep mata) yaitu :

  • Betametason
  • Deksametason
  • Fluorometolon
  • Prednisolon

Terapi Sistemik

Pengobatan sistemik berupa pemberian asam lemak omega 3, antiinflamasi sistemik, dan secretagogues.

Asam lemak omega-3 terbukti dapat meningkatkan produksi dan volume air mata. Beberapa ikan (seperti salmon dan tuna), udang dan kepiting serta minyak dari biji-bijian, sayuran warna gelap dan kacang kenari, kaya akan asam lemak omega-3.

Secretagogues menstimulasi sekresi kelenjar lakrimalis dan saliva melalui reseptor M3. Pilokarpin dan cevimelin adalah dua jenis obat dari golongan secretogouge yang hingga saat ini disetujui oleh FDA. Keduanya efektif dalam mengurangi gejala mata kering. Efek samping utama pengobatan ini adalah berkeringat.

Penting untuk Diketahui

Beberapa hal yang perlu diwaspadai karena dapat memicu terjadinya dry eye adalah sebagai berikut :

  1. Pemakai lensa kontak mata. Lensa kontak lunak yang mengandung kadar air tinggi akan menyerap air mata sehingga mata terasa perih, iritasi, nyeri, dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
  2. Mata yang menatap secara terus menerus sehingga lupa berkedip, seperti saat membaca, menjahit, menatap monitor TV, komputer, ponsel.
  3. Faktor lingkungan seperti udara panas dan kering, asap, polusi udara, angin, serta berada di ruang ber-AC terus menerus akan meningkatkan evaporasi air mata.
  4. Penggunaan beberapa obat yang dapat menurunkan produksi air mata seperti antidepresan, dekongestan, antihistamin, antihipertensi, kontrasepsi oral, diuretik, obat-obat tukak lambung, tranquilizers, beta bloker, antimuskarinik, dan anestesi umum.
  5. Beberapa penyakit seperti artritis rematik, diabetes, kelainan tiroid, asma, dan penyakit autoimun seperti lupus erythematosus.
  6. Usia lanjut. Hampir semua penderita usia lanjut di atas 65 tahun mengalami dry eye, baik laki-laki  maupun perempuan.
  7. Peran hormonal, namun lebih sering terjadi pada wanita seperti pada saat hamil, menyusui, menggunakan obat kontrasepsi, dan menopause.

Daftar Pustaka

  • Colligris, B., Alkozi, H.A. and Pintor, J., 2014. Recent developments on dry eye disease treatment compounds. Saudi Journal of Ophthalmology28(1), pp.19-30.
  • Collins, N., Mizuiri, D., Ravetto, J. and Lum, F.C., 2013. Secretary for Quality of Care Anne L. Coleman, MD, PhD Academy Staff Nicholas P. Emptage, MAE.
  • Fatma A., 2007. Dry Eye Syndrome (Sindroma Mata Kering). Volume 20 Number 4. Indonesia. Dexa Media. p. 162 – 166.
  • Foulks, G.N., Lemp, M.A., Jester, J.V., Sutphin Jr, J., Murube, J., Novack, G.D. and Erickson, S., 2007. OcularSurface. Ocular Surface5(2).
  • Pusat Informasi Obat Nasional Badan POM RI. 2015. Kortikosteroid. Diakses online di http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-11-mata/112-kortikosteroid-dan-antiinflamasi-lain/1121-kortikosteroid tanggal 27 Oktober 2019.
  • Şimşek, C., Doğru, M., Kojima, T. and Tsubota, K., 2018. Current management and treatment of dry eye disease. Turkish journal of ophthalmology48(6), p.309.
apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.