apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Pengalaman Pertama Ikut Lomba Internasional

4 min read

Duniaku Maya – Saya memang suka menulis, tapi sebatas cerpen, bukan karya tulis. Suatu ketika, teman saya di Farmasi Unair, Ulya Madina dan Adlina Savira, menawari saya untuk join suatu lomba tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran UI dengan nama Indonesia International (Bio)Medical Students’ Congress (INAMSC).

Lomba tersebut terdiri dari banyak cabang, yakni Research Paper, Literature Review, dll dengan mengusung tema Neurodegeneratif.

Iseng tapi Tekun

Kami memilih cabang Literature Review dengan topik pencegahan penyakit Alzheimer karena faktor keterbatasan waktu dan minimnya pengetahuan kami mengenai penyakit tersebut.

Kebetulan saat itu sedang libur semester, kami mengerjakan paper dengan modal nekat, iseng-iseng mengisi waktu liburan yang kosong.

Kami mencari sumber jurnal-jurnal ilmiah di perpustakaan kampus B Unair dan berdiskusi hingga petang, semua itu kami lakukan ikhlas untuk menambah wawasan dan pengalaman kami karena kami belum pernah mengikuti lomba semacam ini.

Tak pernah terbersit dalam benak kami untuk lolos dalam event ini karena kami mengerjakannya serba mendadak, yakni hanya 7 hari dengan bahasan yang sangat sederhana.

Kami membahas efek latihan aerobik yang ternyata dapat mencegah penyakit Alzheimer pada manula dengan cara menaikkan volume hippocampus (melalui peningkatan kebugaran cardiorespiratory) dan menurunkan dua hallmark penyakit Alzheimer yakni Amyloid-Beta Plak dan Neurofibrillary Tangle di hippocampus otak.

Yah, Kok Lolos Semifinal?

Pengumuman lolosnya kami ke tahap semifinal membuahkan permasalahan baru. Pada tahap semifinal, satu bulan sebelum presentasi poster di gedung IMERI FK UI, kami diwajibkan membuat poster ilmiah dan power point.

Kami merasa literature review yang kami buat kurang baik karena kami hanya mengerjakannya otodidak tanpa arahan dosen pembimbing dan masih banyak istilah-istilah dalam jurnal yang belum kami pahami. Akhirnya, kami memutuskan untuk meminta bimbingan dokter Maulana, dosen pengajar Farmakologi dari FK Unair.

Dibimbing Empat Dosen Muda

Dokter Maulana memberikan pencerahan kepada kami tentang review yang sebenarnya, bahwa lebih baik membuat review kami menjadi bentuk systematic review. Namun karena saat itu kami belum memahami dengan baik, akhirnya dokter Maulana memberikan opsi untuk membuat review yang sederhana.

Sayangnya, pada saat itu kami sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas kuliah yang datang silih berganti, akhirnya konsentrasi kami terpecah. Merasa frustasi, kami memutuskan untuk bertanya pada Pak Mahardian, dosen pengajar di departemen Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Unair.

Pak Mahardian sangat mengapresiasi usaha dan pencapaian kami, beliau meminta tolong Pak Chrismawan, dosen pengajar di departemen Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Unair, yang ahli dalam penyakit neurodegeneratif, dan Pak Catur, dosen pengajar di departemen Farmasi Komunitas Fakultas Farmasi Unair, yang ahli dalam melakukan statistik data.

Kami dibimbing oleh ketiga dosen muda tersebut dengan sangat baik. Mereka menuntun kami tahap demi tahap untuk memperbaiki review kami menjadi systematic review.

Sejujurnya, kami mengerjakannya dengan sangat tertatih karena pada saat itu kami sedang menjalani UTS, namun melihat semangat ketiga dosen tersebut membimbing kami dan motivasi-motivasi beliau sukses membuat kami bangkit dan semangat menyelesaikan itu semua dengan baik dan tepat waktu.

Syukur Alhamdulillah, poster dan power point dapat kami upload sesuai dengan waktu yang ditentukan panitia.

Jakarta, We are Coming!

Tanggal 26 April 2017, pukul 21.00 WIB, kami bertolak ke Jakarta dengan menggunakan kereta api Kertajaya. Kami harus meninggalkan UTS Patologi Klinik yang terjadwal pada tanggal 28 April 2017, namun tak masalah, kami sudah mengurus semua perijinan.

Kami sampai di Jakarta tanggal 27 April 2017, kami memutuskan menginap di hotel dengan alasan kami harus menjaga stamina sebelum presentasi poster besok. Di hotel, kami memantapkan persiapan presentasi dengan sebaik-baiknya.

Deg-degan! Presentasi Bahasa Inggris

Foto bersama poster ilmiah kami
(source : dokumen pribadi)
Saat presentasi di hadapan juri
(source : dokumen pribadi)

Tanggal 28 April 2017, kami berangkat menuju gedung IMERI FK UI di daerah Salemba Jakarta Pusat. Dengan kostum merah-merah, kami harap warna tersebut dapat memancarkan gelombang semangat sebelum melakukan presentasi.

Pada sesi semifinal, kami harus melawan 45 poster dari berbagai universitas untuk memperebutkan 6 posisi finalis. Semua poster memiliki ide yang sangat brillian dengan desain yang bagus. Kami mendapat urutan kedua untuk mempresentasikan poster ilmiah kami.

Seperti kesepakatan sebelumnya, Adlina Savira sebagai presentator, sedangkan Ulya Madina dan saya sebagai penjawab pertanyaan. Kedua juri cukup antusias dengan presentasi kami. Beliau menanyakan beberapa pertanyaan yang dapat kami jawab dengan cukup baik.

Kurang lebih 8 menit waktu presentasi dan 5 menit untuk tanya jawab. Setelah presentasi, kami berkeliling arena poster untuk melihat para semifinalis yang lain. Mereka tampil dengan sangat baik.

Setelah sesi presentasi, tibalah saat gala dinner yang mana kami disambut dengan sangat baik oleh pihak FK UI. Panitia menyajikan hidangan dan hiburan yang cukup baik. Setelah itu, kami kembali ke hotel.

Pengumuman Final

Tanggal 29 April 2017, kami kembali menuju gedung IMERI FK UI untuk mendengarkan pengumuman peserta yang lolos ke babak final. Yah, kami belum beruntung! Para finalis adalah berasal dari Unpad (2 tim), ITB (2 tim), UI (1 tim), dan Indonesia Institute of Life (1 tim).

Meskipun kami tidak lolos babak final, kami tetap antusias mendengarkan presentasi dari finalis karena ide-ide yang mereka sampaikan sangat bagus dan sangat terbaru sehingga bisa menambah pengetahuan dan inspirasi untuk kami.

Setelah babak final, kami mengikuti rangkaian seminar dan workshop tentang Neurodegenerative Updates for Physicians and Medical Students dengan rincian:

  1. Global Burden of Neurodegenerative Disease oleh dr. Kuntjoro Harimurti
  2. Vascular Risc Factors in Neurodegenerative Disease (Focused on Stroke) oleh M. Kurniawan, MD, MSc
  3. Healthy Aging with Healthy Lifestyle oleh Dyah Tanjungsari, MD
  4. Neurorestoration: Hopeful Future Treatment oleh dr. Adre Mayza, SpS(K)

Setelah mengikuti rangkaian seminar dan Workshop, kami mengikuti acara selanjutnya yakni Have-fun-Go-Med (HFGM) di daerah Pasar Minggu, Jakarta.

Mengunjungi Museum IMERI

Tanggal 30 April 2017, kami kembali menuju gedung IMERI FK UI untuk melakukan IMERI tour. IMERI merupakan gedung yang baru diresmikan dengan harapan menjadi pusat riset di Indonesia.

Kami berkeliling museum anatomi dan menyaksikan berbagai preparat potongan tubuh manusia yang sudah berusia 80-100 tahun! Disana juga terdapat komputer raksasa yang dapat membantu belajar anatomi manusia dengan lebih detail dan menyenangkan.

Setelah itu, kami menuju lantai 9, di mana terdapat pusat riset tentang otak manusia, yang mana kami diperkenalkan dengan brain bank, inovasi yang mengadopsi dari eropa, yaitu manusia dapat mendonorkan otaknya untuk dijadikan riset demi kemajuan penelitian.

Setelahnya, kami kembali ke aula untuk menyaksikan kelanjutan hasil demo kemarin (29/4) yakni seminar Neurorestoration: Hopeful Future Treatment oleh dr. Adre Mayza, SpS(K).

Beliau memperagakan alat temuannya yang dapat mengukur gelombang alfa, beta, gama, delta otak seseorang penderita demensia. Alat tersebut dapat memancarkan gelombang yang diinginkan sehingga dapat memperbaiki daya kerja otak. Luar biasa!

Membatik di Museum Tekstil Tanah Abang

Batik hasil karya kami
(source : dokumen pribadi)

Setelah tur IMERI, kami naik bus menuju museum tekstil di daerah Tanah Abang, Jakarta. Disana kami belajar membatik dan mengetahui proses-proses membuat suatu karya batik. Susah-susah gampang. Seru!

Kuy, Pulang!

Kami menuju stasiun gambir untuk bertolak ke Surabaya. Karena jadwal kereta api kami masih sekitar 3 jam lagi, kami memutuskan untuk sholat di Masjid Istiqlal lalu dilanjutkan jalan-jalan di sekitar Monas. Jam setengah 10 malam, kereta kami berangkat. Sampai Surabaya sekitar pukul 7 pagi.

Kami sangat beruntung bisa mengikuti serangkaian dari kegiatan INAMSC kali ini, meskipun belum bisa membawa trophy kemenangan, namun kami sudah banyak mendapatkan ilmu yang luar biasa, terlebih ilmu kedokteran yang tidak kami pelajari di kuliah kami. Semoga pada kesempatan selanjutnya kami bisa melakukan yang lebih baik lagi.

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.