apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Prospek Kerja Apoteker (Sektor Rumah Sakit)

7 min read

Duniaku Maya – Di mata masyarakat, apoteker memang belum dikenal dengan baik peran dan tanggungjawabnya daripada tenaga kesehatan lain seperti dokter atau perawat. Sebagian besar masyarakat hanya mengetahui peran apoteker di apotek, padahal apoteker memiliki kesempatan berkarir pada banyak bidang.

Pengertian Apoteker

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, apoteker merupakan suatu profesi dimana dalam memperoleh profesi tersebut harus menempuh pendidikan sarjana farmasi serta pendidikan Apoteker dengan mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.

Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian

Menurut PP No. 51 tentang pekerjaan kefarmasian, pelaksanaan pekerjaan kefarmasian meliputi :

  • Pengadaan sediaan farmasi (dilakukan pada fasilitas produksi, distribusi, dan pelayanan),
  • produksi sediaan farmasi,
  • distribusi dan penyaluran sediaan farmasi,
  • pelayanan sediaan farmasi.

Apoteker berperan pada sektor produksi (industri), distribusi, pelayanan (rumah sakit dan komunitas), pendidikan, dan pemerintahan.

Baca juga Prospek Kerja Apoteker (Sektor Industri)

Sektor Rumah Sakit

Pekerjaan apoteker di rumah sakit mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomer 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, yaitu kegiatan bersifat manajerial pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai serta pelayanan farmasi klinis.

1. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai

Di rumah sakit, pembuatan formularium, pengadaan, dan pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) dilakukan dengan sistem satu pintu, yaitu hanya dikelola oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit.

Kegiatan manajerial tersebut meliputi :

  • pemilihan;
  • perencanaan kebutuhan;
  • pengadaan;
  • penerimaan;
  • penyimpanan;
  • pendistribusian;
  • pemusnahan dan penarikan;
  • pengendalian; dan
  • administrasi.

Instalasi farmasi dipimpin oleh seorang apoteker sebagai penanggung jawab. Seorang kepala instalasi akan dibantu oleh beberapa apoteker dalam menjalankan tugasnya. Apoteker dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) untuk melaksanakan tugasnya.

Jumlah apoteker di rumah sakit tergantung dari tipe rumah sakit tersebut, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomer 30 tahun 2019 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit.

Tipe Rumah SakitRS UmumRS khusus Ibu dan AnakRS Khusus Gigi dan MulutRS Khusus GinjalRS Khusus JiwaRS Khusus Infeksi RS Khusus THT-KLRS Khusus ParuRS Khusus Ketergantungan ObatRS Khusus BedahRS Khusus KankerRS Khusus Jantung dan Pembuluh darah
A1162233243356
B841122122234
C62
D2

Dengan jumlah tersebut, apoteker harus melakukan peran manajerial atau peran pelayanan farmasi klinis sesuai dengan beban kerja yang telah ditentukan. Tidak menutup kemungkinan, satu apoteker dapat bertangungjawab pada manajerial dan pelayanan farmasi klinis sekaligus, namun hal tersebut jarang ditemukan.

Berikut ini merupakan rincian tugas apoteker pada aspek manajerial :

Pemilihan dan Perencanaan Kebutuhan

Pernah berpikir nggak apa yang terjadi jika stok obat-obatan di rumah sakit banyak yang kosong? Tentunya aktivitas pelayanan di Rumah Sakit tersebut akan terganggu. Dokter akan kesulitan untuk melakukan tugasnya, pun pasien akan terhambat proses penyembuhannya.

Untuk menyediakan sediaan farmasi, alkes, maupun BMHP di suatu rumah sakit, apoteker harus melakukan pemilihan berdasarkan formularium yang disepakati (formularium nasional maupun formularium Rumah Sakit), standar yang telah ditetapkan, pola penyakit, pengobatan berbasis bukti, efektifitas-keamanan-mutu, harga, dan ketersediaan di pasaran.

Jika sudah melakukan pemilihan, maka harus dilakukan perencanaan kebutuhan untuk menentukan jumlah dan periode pengadaan agar menghindari kekosongan obat. Perencanaan kebutuhan ini dilakukan dengan mempertimbangkan anggaran, prioritas, sisa persediaan, data pemakaian sebelumnya, waktu tunggu pesanan, dan rencana pengembangan.

Pengadaan

Pernah berpikir nggak apa yang terjadi jika obat-obatan yang ada di Rumah Sakit tidak didapatkan dari tempat yang baik, apakah obat tersebut akan memberikan manfaat atau justru malah membahayakan keselamatan pasien?

Kegiatan pengadaan dilakukan dengan cara pembelian, produksi sediaan farmasi, maupun dari dropping/hibah.

  • Pembelian : Dilakukan pembelian pada Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang sudah mendapatkan lisensi dan menerapkan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB).
  • Produksi Sediaan Farmasi : Dilakukan pada rumah sakit yang telah memenuhi kriteria untuk melakukan produksi sediaan farmasi sendiri dan hanya diperuntukkan untuk kebutuhan rumah sakit tersebut. Kegiatan produksi sediaan tertentu meliputi sediaan yang tidak ada di pasaran, sediaan dengan formula khusus, sediaan dengan kemasan lebih kecil (repacking), sediaan farmasi yang tidak stabil dalam penyimpanan/harus dibuat baru (recenter paratus).

Penerimaan

Penerimaan adalah kegiatan menerima pesanan yang diantarkan oleh PBF. Kegiatan ini bertujuan untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah, dan mutu sediaan farmasi, alkes, atau BMHP yang diterima sesuai dengan dokumen terkait.

Dilakukan pemeriksaan fisik, harus dipastikan tidak ada kecacatan dalam proses distribusi. Perlu dilakukan pemeriksaan jumlah, nomer batch dan tanggal kadaluarsa.

Penyimpanan

Pernah berpikir nggak bagaimana obat, alkes, dan BMHP yang jumlahnya nggak sedikit tersebut diperlakukan di gudang penyimpanan maupun depo farmasi? Apakah sama perlakuannya dengan gudang produk makanan? Apakah tidak rusak selama disimpan berhari-hari? Bagaimana menatanya, jika salah ambil obat apa tidak berbahaya? Bagaimana kualitas, mutu, dan keamanannya bisa terjamin?

Untuk menjamin kualitas, mutu, dan keamanan sediaan farmasi, alkes, dan BMHP, kegiatan penyimpanan harus mempertimbangkan beberapa persyaratan, diantaranya terkait stabilitas obat, suhu, kelembaban, cahaya maupun ventilasi.

  • Penyimpanan harus mempertimbangkan stabilitas. Obat yang tidak stabil pada suhu ruang harus diletakkan di kulkas.
  • Penyimpanan obat harus dimonitoring tiap hari dan didokumentasikan suhu dan kelembabannya.
  • Penyimpanan bisa berdasarkan kelas terapi maupun bentuk sediaan dan disusun secara alfabetis dengan menerapkan prinsip First Expired First Out (FEFO) maupun First In First Out (FIFO) untuk memudahkan dan mencegah kesalahan. Tiap item harus diberi label nama dengan font size yang mudah terbaca.
  • Penyimpanan LASA (Look Alike Sound Alike) atau obat yang namanya mirip maupun kemasannya mirip, tidak boleh ditempatkan berdekatan dan harus diberi penandaan khusus untuk menghindari kesalahan pengambilan.
  • Penyimpanan High Alert Medicine (HAM) pada tempat terpisah dan diberi tanda khusus (garis merah dan sticker High Alert Double Check).
  • Penyimpanan sitostatika pada lemari penyimpanan tersendiri dengan handling khusus.
  • B3 pada tempat penyimpanan khusus.
  • Narkotika dan Psikotropika pada tempat penyimpanan khusus.

Pendistribusian

Kegiatan menyalurkan/menyerahkan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/pasien dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketepatan waktu. Pendistribusian ini dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu :

Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan (floor stock)

Sistem distribusi floor stock cocok pada unit emergency seperti IGD, ICU, maupun NICU. Obat, alkes, dan BMHP disimpan di tempat penyimpanan yang mudah dijangkau oleh dokter maupun perawat. Setiap obat, alkes, maupun BMHP yang diambil dari lemari penyimpanan tersebut harus dicatat dan dilaporkan kepada farmasi untuk didata dan diganti sesuai periode yang telah disepakati. Jenis dan jumlah obat, alkes, maupun BMHP yang disediakan sesuai dengan kebutuhan yang telah ditentukan.

Sistem Resep Perorangan

Sistem distribusi ini biasanya digunakan pada rawat jalan.

Unit Dose Dispensing (UDD)

Sistem distribusi ini berdasarkan resep perorangan yang kemudian disiapkan dalam unit dosis tunggal atau ganda, untuk penggunaan satu kali dosis/pasien. Sistem unit dosis ini digunakan untuk pasien rawat inap. Sistem ini digunakan untuk meminimalkan medication error.

Pemusnahan dan Penarikan

Pemusnahan dilakukan untuk obat, alkes, atau BMHP yang tidak dapat digunakan, yaitu telah kadaluarsa atau sudah rusak. Pemusnahan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Penarikan dilakukan jika ada instruksi dari BPOM untuk menarik obat yang tidak memenuhi ketentuan (mandatory recall) atau instruksi dari industri farmasi yang memproduksi obat (voluntary recall). Sedangkan penarikan alkes dan BMHP dilakukan jika menteri sudah mencabut izin edarnya.

Pengendalian

Pengendalian dimaksudkan agar stok obat, alkes, dan BMHP sesuai dengan FORNAS dan FORKIT, selain itu untuk menghindari kelebihan atau kekurangan stok. Evaluasi penting untuk mengatasi obat-obat slow moving atau death stock. Pengisian kartu stok dan pelaksanaan stock opname sangat penting untuk kegiatan pengendalian.

Administrasi

Kegiatan administrasi termasuk pencatatan dan pelaporan (meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, pendistribusian, pengendalian persediaan, pengembalian, pemusnahan dan penarikan), administrasi keuangan, dan administrasi penghapusan.

2. Pelayanan Farmasi Klinis

Menurut PMK No. 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan langsung yang diberikan Apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome terapi dan meminimalkan risiko terjadinya efek samping karena obat, untuk tujuan keselamatan pasien (patient safety) sehingga kualitas hidup pasien (quality of life) terjamin.

Pelayanan Farmasi Klinis meliputi :

Pengkajian dan Pelayanan Resep

Agar resep tersebut dapat dilayani, apoteker terlebih dahulu melakukan skrining resep yaitu meliputi aspek administratif, aspek farmasetik, dan aspek klinis. Apoteker harus memastikan jika resep tersebut sudah memenuhi aspek tepat pasien, tepat obat, tepat bentuk sediaan, tepat dosis, dan tepat cara pemberian.

Sebelum menyerahkan obat ke pasien, apoteker harus menjamin bahwa tidak ada medication error yang terjadi. Penyerahan obat harus disertai dengan pemberian informasi tentang obat-obatan tersebut kepada pasien.

Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat dan Rekonsiliasi Obat

Penelusuran riwayat obat, riwayat penyakit, maupun riwayat alergi ini dilakukan dengan metode wawancara kepada pasien maupun care givernya atau dengan melihat data rekam medik pasien.

Rekonsiliasi obat merupakan proses membandingkan instruksi pengobatan dengan obat yang telah didapat pasien. Rekonsiliasi dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan obat (medication error) seperti obat tidak diberikan, duplikasi, kesalahan dosis atau interaksi Obat.

Rekonsiliasi obat dilaksanakan saat pasien masuk rumah sakit (rekonsiliasi saat admisi), biasanya dilakukan di IGD, saat ada proses transfer pasien dari IGD ke ruangan rawat inap (rekonsiliasi transfer), dan saat pasien akan Keluar Rumah Sakit / KRS (rekonsiliasi discharge).

Konseling

Konseling adalah kegiatan memberikan informasi atau edukasi kepada pasien atau care giver. Tujuannya untuk mengoptimalkan hasil terapi, meminimalkan efek samping obat, dan meningkatkan cost-effectiveness.

Kriteria pasien yang memerlukan konseling :

  • Pasien kondisi khusus (Contoh : pediatri, geriatri, gangguan fungsi ginjal, ibu hamil dan menyusui);
  • Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (Contoh : TB, DM, epilepsi, dan lain-lain);
  • Pasien yang menggunakan obat-obatan dengan instruksi khusus (Contoh : penggunaan kortiksteroid dengan tappering down/off);
  • Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (contoh : digoksin, phenytoin);
  • Pasien yang menggunakan banyak obat (polifarmasi)
  • Pasien yang mempunyai riwayat kepatuhan rendah.

Visite

Merupakan kunjungan apoteker ke pasien rawat inap yang dilakukan secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan. Tujuannya untuk mengamati kondisi klinis pasien secara langsung, mengkaji masalah terkait obat, memantau terapi dan efek samping obat, dan meningkatkan terapi obat yang rasional.

Pemantauan Terapi Obat (PTO)

Merupakan kegiatan yang dilakukan apoteker untuk menjamin bahwa obat yang pasien terima efektif, rasional, dan aman. Apoteker akan mengkaji terapi setelah mengumpulkan data-data yang relevan dari pasien. Jika ditemukan masalah terkait obat (drug related problem), apoteker akan memberikan rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat tersebut dan memantaunya.

Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

Seringkali, obat menimbulkan reaksi efek samping obat yang tidak dikehendaki. Efek samping tersebut bisa menghambat efektivitas terapi bahkan bisa memperburuk kondisi pasien. Jika ditemukan efek samping obat pada pasien, apoteker akan menginformasikan kepada dokter atau tenaga kesehatan lain dan memberikan rekomendasi untuk mengatasi efek samping obat tersebut.

Efek samping obat tersebut kemudian didokumentasikan dengan menggunakan formulir yang tersedia dan dilaporkan Pusat MESO nasional.

Pelayanan Informasi Obat (PIO)

Sebagai profesi yang memahami dengan baik tentang obat-obatan, apoteker dituntut mampu memberikan informasi yang diperlukan baik itu oleh tenaga medis maupun oleh pasien. Penyediaan informasi obat-obatan tersebut dapat berupa secara lisan maupun tulisan.

Di rumah sakit yang memiliki fasilititas dan jumlah apoteker yang memadai, PIO memiliki ruang khusus dan struktur organisasi tertentu. Penanya dapat mengajukan pertanyaan dengan mengisi form yang ada, kemudian petugas akan memberikan jawaban dengan menggunakan literatur yang paling baru. Selain itu, PIO akan menerbitkan buletin, leaflet, poster, atau newsletter tentang obat.

Sayangnya, tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas PIO seperti yang telah disebutkan.

Dispensing Sediaan Steril

Dispensing sediaan steril harus dilakukan di Instalasi Farmasi dengan teknik aseptik untuk menjamin sterilitas dan stabilitas produk dan melindungi petugas dari paparan zat berbahaya serta menghindari terjadinya kesalahan pemberian obat.

Obat-obat injeksi yang memerlukan proses pencampuran sebelum disuntikkan ke pasien harus ditangani secara khusus karena memiliki risiko tersendiri. Pencampuran ini tidak boleh dilakukan di sembarang tempat dan harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang relevan.

Pada rumah sakit yang tenaga apotekernya tidak terlalu banyak, kegiatan ini biasanya diwakilkan kepada perawat yang telah mendapatkan pelatihan tentang dispensing sediaan steril, namun tetap di bawah pengawasan apoteker.

Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)

Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) merupakan program evaluasi penggunaan Obat yang terstruktur dan berkesinambungan secara kualitatif dan kuantitatif. Faktor-faktor terkait yaitu indikator peresepan, indikator pelayanan dan indikator fasilitas.

Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD)

Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD) merupakan interpretasi hasil pemeriksaan kadar Obat tertentu atas permintaan dari dokter yang merawat karena indeks terapi yang sempit atau atas usulan dari Apoteker kepada dokter.

Sharing Pengalaman Pratik sebagai Apoteker di Rumah Sakit

Menjadi apoteker rumah sakit harus memiliki hati yang lapang, ilmu yang selalu berkembang setiap waktu, dan paham cara berkomunikasi yang efektif baik itu kepada pasien maupun kepada dokter dan tenaga kesehatan lain.

Apoteker rumah sakit akan saling bersinergi untuk mengemban peran dan tanggungjawab yang tidak sedikit tersebut untuk mewujudkan keselamatan pasien dan meningkatkan outcome terapinya.

Bekerja di rumah sakit harus selalu menjaga hygiene diri untuk menghindari risiko penularan baik itu dari tenaga kesehatan ke pasien, pasien ke tenaga kesehatan, maupun ke sesama tenaga kesehatan.

Peran yang tak sedikit namun jarang terlihat secara gamblang tersebut membuat profesi ini jarang diketahui oleh masyarakat. Oleh karena itu, agar pasien memiliki kepercayaan terhadap profesi apoteker, apoteker rumah sakit harus senantiasa mewujudkan pelayanan sebaik-baiknya baik dari segi manajerial maupun farmasi klinis.

Yang tidak ternilai dari praktik di rumah sakit adalah menyaksikan antusiasme pasien terhadap kepedulian yang kita tunjukan melalui asuhan kefarmasian (Pharmaceutical Care).

apt. Maya Firdausi, S.Farm
Apoteker rumah sakit yang baru berkarir selama sepuluh bulan di bidang Farmasi Rumah Sakit.
apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

One Reply to “Prospek Kerja Apoteker (Sektor Rumah Sakit)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *