apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Review Buku “Cinta dalam Ikhlas”

7 min read

Duniaku Maya – Membaca novel romance memang menjadi aktivitas yang cukup menghibur kala penat mengisi hari. Meskipun sudah cukup lama tidak membaca novel fiksi romance, namun saya tertarik dengan novel romance islami karya salah satu penulis terkenal ini. Dari sampulnya sungguh sangat menarik, seorang laki-laki yang memandang kagum perempuan kalem di dekatnya dengan sopan. Saya berharap kisah yang dituangkan di novel ini akan seindah judulnya, “Cinta dalam Ikhlas”.

Identitas Buku

sumber : dokumen penulis
  • Judul buku                  : Cinta dalam Ikhlas
  • Penulis                         : Abay Adhitya
  • Penerbit                       : Penerbit Bunyan
  • Tahun terbit                : Cetakan kelima, November 2019
  • Jumlah halaman        : 376 halaman
  • Harga : Rp 89000

Sinopsis

sumber : dokumen penulis

Bintang Athar Firdaus harus kehilangan ayahnya pada usia 5 tahun dan kehilangan Teh Rani, kakak perempuan tertuanya pada saat kelas III. Athar tinggal bersama Mama, kakak, dan adik perempuannya. Mama berjuang seorang diri sebagai single parent.

Selepas lulus SMP, Athar melanjutkan sekolahnya di SMAN 1 Sukaresmi, sebuah sekolah dengan pemandangan yang sangat indah. Sebenarnya Athar ingin melanjutkan ke SMAN 1 Cianjur, sekolah favorit yang juga merupakan sekolah impiannya, namun Mama memilihkan sekolah SMAN 1 Sukaresmi untuk menimba ilmu.

Saat menjalani Masa Orientasi Siswa, Athar terpana pada seorang siswi yang memiliki senyum seperti pelangi, meskipun ia belum tahu siapa namanya. Sepertinya takdir memihak Athar, ia dan si senyum pelangi itu ternyata satu kelas. Aurora Cinta Purnama. Panggilannya Ara. Sejak saat itu, senyum Ara yang indah dan tingkah lakunya yang kalem dan teduh mampu membuat Athar berubah seratus delapan puluh derajat.

Ketika SMP, Athar termasuk cowok yang biasa saja, bahkan cenderung nakal. Athar sempat terlibat perkelahian di sekolah bahkan Mama pernah dipanggil ke sekolah lantaran dia sempat berbuat onar. Athar sempat berpacaran dengan beberapa cewek saat SMP, namun ujung-ujungnya selalu kandas. Menurutnya, saat itu ia hanya terjebak rasa gengsi karena teman-teman satu gengnya sudah punya pacar semua. Rumitnya dunia pacaran membuat prestasinya di sekolah semakin menurun.

Rasa tertariknya pada Ara menurutnya bukan rasa ketertarikan biasa. Ia tidak ingin menjadikan Ara hanya sebagai pacar, namun juga sosok pendamping hidupnya kelak. Suatu ketika ia bertemu dengan Mamat, teman sekelasnya, di musholla. Saat itu ia hanya rebahan (numpang tidur) di dalam musholla dan tak sengaja melihat Ara sedang sholat Dhuha. Athar bercerita jika ia tertarik pada Ara, namun Mamat malah meledeknya. Ara adalah perempuan sholihah, pintar, pendiam, ramah. Tidak mungkin seorang Ara akan menyukai Athar, seorang anak band dengan penampilan urakan. Mamat berpetuah jika Athar harus berkorban untuk berubah, memantaskan diri untuk Ara.

Sesuai dengan petuah Mamat, Athar berubah. Di dalam kelas, ia menjadi salah satu murid yang paling aktif bertanya maupun menjawab pertanyaan dari guru. Selain itu, ia selalu mengerjakan PR tepat waktu, tidak pernah tidur di kelas, dan luar biasanya, Athar mengikuti nasihat Mamat untuk ikut rohis sekolah. Seorang anak band ikut rohis? Tentu menjadi tanda tanya besar bagi Athar, namun niatnya untuk memantaskan diri sudah bulat. Ternyata, Ara juga masuk rohis. Di organisasi rohis, Athar mengenal banyak orang baik dan shalih. Tentu saja, organisasi yang mulanya asing itu justru mempermudah jalannya untuk berubah.

Athar dan band Edelweis semakin dikenal dan dieluh-eluhkan seisi sekolah, apalagi setelah ia berhasil tampil memukai di acara pensi. Athar juga berhasil menjadi juara kelas. Prestasi demi prestasinya itu belum mampu membuat Ara menunjukkan rasa ketertarikannya pada Arthar. Saat perpisahan kelas I SMA, Arthar menulis sebuah puisi di buku diary Ara.

Jodoh Dunia Akhirat, namamu rahasia.
Tapi, kau ada di masa depanku.
Kusebut dalam doa
Kuikhlaskan rinduku.
Kita bersama melangkah ke Surga, Abadi…

Athar mengatakan semua perasaannya pada Ara, namun ia tidak meminta Ara untuk menjadi pacarnya. Ia berharap suatu hari nanti, ia mampu menjadi imam yang baik untuk Ara.

Lepas itu, Athar semakin fokus berubah, namun kali ini tidak hanya untuk membuat Ara terkesan, namun ia merasa ada panggilan dari hatinya. Ia harus merelakan keluar dari band Edelweis yang sudah membesarkan namanya karena Athar dicalonkan jadi ketua rohis. Setelah terpilih jadi ketua rohis, Athar sangat fokus untuk mewujudkan mimpinya agar bisa terus berprestasi. Athar pun masih menulis lagu-lagu islami, masih menjadi juara kelas, dan di bawah kepemimpinannya, rohis SMA nya berhasil dinobatkan sebagai rohis dengan kegiatan terbaik se-Kabupaten Cianjur.

Sebelum lulusan SMA, Athar memberanikan diri sekali lagi untuk berbicara kepada Ara. Ia menanyakan sekali lagi tentang perasaan Ara kepadanya. Di luar dugaan, Ara tidak memberikan jawaban seperti yang Athar inginkan. Namun, justru jawaban Ara itu yang membuat Athar semakin fokus memantaskan dirinya.

Gerbang perjuangan Athar telah benar-benar terbuka. Ia mengikuti SPMB dan mengambil jurusan impiannya di ITB. Qodarullah, kesempatan itu tidak berpihak pada Athar. Meskipun kecewa, Athar memenuhi pilihan Mama untuk mendaftar di sebuah sekolah bisnis di Bandung yang menawarkan ikatan dinas dan beasiswa penuh. Berbekal ongkos dua ratus ribu, Athar berangkat ke Bandung naik bus. Di dalam bus, Athar bertemu dengan Pak Farhan, seorang pedagang baju muslimah di ITC Kebon Kalapa. Berkat nasihat dari Pak Farhan, Athar terpikir untuk berbisnis agar bisa mendapat tambahan penghasilan.

Athar tinggal bersama Kang Zein di Bandung, tentu saja atas rekomendasi Mamat. Kang Zein adalah sahabat Mamat di pesantren Garut. Dia merupakan mahasiswa jurusan Bahasa Arab di UPI. Kang Zein bercerita jika ia juga kuliah sambil bekerja : mengajar les privat dan berjualan kaus dakwah di kampus. Athar banyak belajar pada Kang Zein, terutama tentang perjuangan selama kuliah.

Athar berjualan gantungan kunci dan stiker di pelataran masjid Pusdai, beberapa masjid kampus, hingga lapangan Gasibu. Ia menjelma menjadi mahasiswa yang gigih meraup ilmu di kampus dan mencari tambahan penghasilan. Seiring berjalannya waktu, kemampuan berbisnisnya meningkat. Ia cukup sering mengikuti seminar berbisnis. Athar pun sempat berguru pada Mas Eko Tegal, teman satu kosnya. Mas Eko merupakan pedagang jins di sekitar masjid Agung. Naasnya, ketika ikut Mas Eko berjualan, ia harus merasakan pahitnya dikejar SATPOL PP. Mereka berdua lari sampai ke daerah ITC Kebon Kalapa. Athar teringat janjinya untuk mengunjungi Pak Farhan, pemilik kios Salsabila yang dulu berjumpa di dalam bus.

Bermula dari perjumpaan itu, Pak Farhan menawarkan kepada Athar untuk membantunya mengelola kios miliknya karena putrinya, Salsabila, kewalahan. Salsabila adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan bahasa Inggris di Unpad. Athar mengajak Kang Zein untuk bersama-sama mengelola Kios Salsabila. Berbagai strategi mereka lakukan hingga untung kios Salsabila meroket tajam. Perjanjian bagi hasil yang telah disepakati membuat Athar semakin mandiri dan gemilang secara finansial.

Kepribadian dan kesalehan Athar membuat seorang teman kuliahnya jatuh hati padanya. Namanya Lestari Nurani, seorang muslimah yang gemar membaca banyak buku. Tari juga kerap meminjamkan bukunya kepada Athar. Awalnya, Athar kira Tari hanya ingin berteman dengannya karena mereka sama-sama menyukai buku, namun belakangan, ternyata Tari mengajaknya bertaaruf.

Athar meminta waktu 1-3 bulan untuk meminta rida dan restu Mama, terlebih untuk meyakinkan diri. Tari perempuan baik, namun Athar belum menemukan keyakinan itu padanya. Athar memang berniat untuk menikah muda, yakni usia 22 tahun. Menurutnya, kemapanan adalah sesuatu yang bisa dicapai bersama-sama dengan pasangan nanti. Menikah menjadi sebuah percepatan keseriusan dan kedewasaan dalam menjalani hidup, namun dengan syarat kita harus menikah dengan orang yang sevisi dan semisi. Sebagai anak laki-laki yang masih memiliki tanggungan, Athar tidak merasa akan kehilangan perannya jika sudah menikah, justru perannya akan bertambah, dan dia sudah siap akan hal itu.

Mama meridai Athar untuk menikah tahun depan. Athar pun mengirimkan email kepada Tari. Isinya, ia menerima ajakan taaruf Tari dengan beberapa syarat :

  1. Meluruskan niat, taaruf karena Allah
  2. Jujur selama proses taaruf
  3. Menjaga diri (komunikasi hanya via SMS atau email, itupun hanya hal-hal penting)
  4. Jangka waktu taaruf hanya 2 bulan
  5. Melibatkan Allah dalam setiap pengambilan keputusan (sholat istikharah).

Setelahnya, mereka melakukan tukar CV dan proposal hidup via email. Mereka benar-benar membatasi diri, lebih menjaga jarak, bahkan mereka berdua sudah tidak pernah terlibat diskusi tentang buku lagi. Dua bulan berselang, Athar mengirim permintaan maaf jika ia tidak bisa melanjutkan taaruf tersebut karena ia tidak memiliki keyakinan yang ia cari. Tari pun menerima keputusan Athar dengan lapang.

Lika-liku kehidupan Athar tak berhenti sampai disitu. Pak Farhan yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu mengajaknya mengunjungi panti asuhan yang ia kelola. Di sana, beliau mengajukan tiga permintaan kepada Athar, yaitu untuk mengurus panti asuhan, mengurus kios Salsabila, dan menikahi putrinya, Salsabila. Tak sampai disitu, ternyata, Kang Zein pun mengutarakan niatnya untuk melamar Salsabila kepada Athar. Kang Zein meminta tolong kepada Athar untuk mengomunikasikan niat baiknya tersebut kepada Pak Farhan. Athar terjebak pada situasi yang dilematis.

Di tengah situasi yang membingungkan tersebut, Athar menyadari sesuatu, tentang bab cinta dalam hidupnya. Ia sudah terlalu lama diam dan berhenti, tidak memperjuangkan cinta nya bahkan setelah ia sudah mendapatkan izin menikah dari Mama. Ia kembali teringat Ara. Mengapa sudah sejauh ini ia melangkah untuk memantaskan diri namun ia tak pernah bergerak untuk mencari sosok Ara. Di mana perempuan itu sekarang?

Tekadnya sudah bulat, keyakinan kembali menyesaki hatinya, tentang sosok Ara yang kembali mengisi sepertiga malamnya. Athar menghubungi Mamat, meminta tolong untuk mencari informasi keberadaan Ara di tempat tinggalnya. Sementara Athar melangkahkan kaki ke Jakarta mencari sosok Ara. Ia tidak tahu Ara kuliah di mana, jurusan apa, apalagi kontaknya. Ara tidak aktif di sosial media. Athar hanya bermodal ingatan tentang kabar dari anak rohis jika Ara berniat kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Nihil. Setelah mencari dan bertanya kesana kemari, ia harus pulang dengan tangan hampa. Nihil.

Athar hanya bisa mengadukan kegalauan hatinya di sepertiga malam. Setelah sholat Tahajud, ia berdoa :

“Ya Allah, jika memang benar dia adalah jodoh dunia akhiratku, mohon berikan petunjuk-Mu. Tapi, jika dia bukan jodohku, mohon jauhkan dia dariku dengan cara-Mu.”

Tiba-tiba Mamat menghubungi Athar dan meminta untuk menemuinya di masjid Salman ITB. Namun Athar tak menduga jika Mamat tengah mengerjainya. Yang menemuinya di masjid Salman ITB adalah Ara. Athar kembali menyinggung soal perbincangan terakhir mereka saat bertemu, tentang niat Athar untuk menikahi Ara. Tak seperti sebelumnya, kini Ara memberikan jawaban yang membuat Athar merasa seperti kapal layar yang telah lama terombang-ambing di lautan dan kembali pulang ke dermaga impian.

Athar telah mengambil keputusan. Ia menemui Pak Farhan untuk menjelaskan dengan sopan dan hati-hati jika Athar belum bisa menerima permintaan Pak Farhan untuk menikah dengan Salsabila. Kepada Kang Zein, ia juga menceritakan dan menjelaskan tentang fakta yang sebenarnya, jika Pak Farhan sempat memintanya menikahi Salsabila. Kang Zein dapat memahami segala peristiwa yang terjadi.

Di luar dugaan, kondisi Pak Farhan memburuk. Ia dilarikan ke ICU RS Hasan Sadikin dalam kondisi tidak sadarkan diri. Athar merasa bersalah. Bersama Kang Zein dan Salsabila, Athar tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk kesembuhan Pak Farhan. Hari itu, ia berjanji akan menemui orangtua Ara karena jika hari itu Athar terlambat, esok hari orangtua Ara berencana menjodohkan Ara dengan dokter muda, anak teman Ayahnya. Pada kondisi gawat dan serba salah tersebut, Athar harus mengambil keputusan yang sulit. Tetap menunggu Pak Farhan hingga siuman dan berjanji akan menikahi Salsabila agar Pak Farhan bahagia, atau meninggalkan beliau untuk mewujudkan impiannya melamar Ara.

Alhamdulillah, Pak Farhan akhirnya siuman. Beliau memanggil Athar untuk menitipkan Panti Asuhan kepadanya. Alhamdulillah, pada momen tersebut, di ruang perawatan Pak Farhan, Kang Zein dan Salsabila menikah dengan Pak Agus dari Yayasan dan Pak Farhan sebagai saksi.

Athar segera menemui orangtua Ara. Syukurlah, belum terlambat. Berbicara empat mata dengan ayah Ara sempat membuat Athar gelisah. Tak disangka, sebuah keajaiban terjadi. Ternyata ayah Ara adalah sahabat ayahnya saat menjadi pengurus di pengajian di pesantren Futuhiyah. Suasana seketika menjadi lebih cair. Alhamdulillah…

Moral Value

Awal membaca buku ini, saya sudah sangat tertarik karena buku ini berkisah tentang perjuangan. Hidup yang tidak mudah akan senantiasa menyuguhkan lembar demi lembar hikmah. Athar yang gigih berubah menjadi lebih baik meskipun awalnya hanya untuk membuat Ara terkesan, namun ternyata itulah jalan hidayah dari-Nya.

Berubah memang tidak mudah, harus mengubah kebiasaan, mengubah pola pikir, bahkan sampai lingkungan dan pergaulan. Saya sendiri pernah mengalami hal tersebut, dipaksa takdir untuk menguliti lapis demi lapis kebiasaan buruk masa lalu. Sakit, sulit, berdarah-darah, namun bukan hal mustahil untuk dilakukan. Allah pasti memberikan jalan terbaik kok.

Selain tentang perjalanan hijrah, buku ini juga mengupas bagaimana menjaga kesucian makna cinta. Jika kamu sungguhan mencintai makhluk, maka dekatilah Sang Pencipta-Nya, yaitu dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Athar sungguh mencintai Ara, namun laki-laki itu tidak ingin memainkan perasaan perempuan itu, oleh sebab itu ia rela memantaskan diri terlebih dahulu hingga tibalah waktu yang tepat untuk meminta dengan cara yang baik.

Dan… yup! Memantaskan diri, terlebih menjaga hati itu tidaklah mudah! Ketika kita bisa melaluinya, maka kita adalah pemenang atas nafsu diri kita sendiri. Insya Allah.

Quotes Favorit

sumber : dokumen penulis

Cinta sejati itu menenangkan, membahagiakan, mendamaikan… dan hanya bisa kamu dapatkan dengan cara yang Allah ridhoi.

Halaman 103

Jika mencintaimu mendekatkanku kepada-Nya, aku siap berkorban untukmu
Jika mencintaimu menjauhkanku dari-Nya, aku siap melepaskanmu.

Halaman 146

Bagiku, menikah bukanlah penghalang untuk berbakti. Sebaliknya, menikah adalah sarana untuk berbakti.

Halaman 280

Kalau kamu tidak diperjuangkan oleh seseorang yang kamu harapkan, kamu akan diperjuangkan oleh seseorang yang mengharapkanmu.

Halaman 321

Jangan dulu bicara takdir sebelum doa dan semua ikhtiar kamu selesaikan.

Halaman 366

Sebenarnya bukan aku yang memilihmu, bukan pula cinta yang memilihmu, tapi Allah yang memilihmu untuk kucintai.

Halaman 372
apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *