apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Review Buku “Segenggam Iman Anak Kita”

5 min read

Duniaku Maya – Sahabat pasti setuju jika anak merupakan investasi akhirat bagi orangtuanya. Layaknya investasi lain, orangtua pasti akan mempersiapkan usaha terbaik untuk membuat investasi itu berhasil.

Seperti review buku sebelumnya tentang pernikahan (baca di sini), tidak ada salahnya Sahabat mulai membaca buku-buku tentang parenting islami meskipun belum mempunyai anak apalagi belum menikah. Manfaatnya, selain dapat membuka cakrawala pengetahuan, juga dapat menjadi pengingat bagi kita sebagai anak ataupun seorang calon orangtua.

Untuk para calon orangtua, membaca buku parenting islami dapat menambah wawasan tentang cara mendidik anak sesuai dengan pedoman Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman yang lebih baik. Tidak dapat dipungkiri, banyak calon orangtua belum membekali diri dengan pengetahuan yang cukup dan lebih banyak mengandalkan learning by doing saja.

Dokumen penulis
  • Judul buku                  : Segenggam Iman Anak Kita
  • Penulis                         : Mohammad Fauzil Adhim
  • Penerbit                       : Pro-U Media
  • Tahun terbit                : 2013
  • Jumlah halaman        : 288 halaman
Dokumen penulis

Bagian Pertama : Menjadi Orangtua untuk Anak Kita

Kesiapan mental orangtua akan mempengaruhi kualitas anak. Banyak memiliki anak bukan menjadi alasan untuk gagal mendidik anak, pun sedikit anak tidak menjamin orangtua akan sukses mendidik anak.

Orangtua perlu membangun niat untuk menjadikan anak tumbuh dengan rasa syukur, sehingga anak akan lebih mudah belajar tentang kebaikan dan kesantunan.

Peran orangtua yang sangat krusial adalah peran seorang ibu. Ia yang harus kepayahan mengandung, melahirkan, dan merawat anak dengan rasa sakit yang bertubi-tubi. Sejatinya, rasa sakit saat melahirkan sangat bermanfaat bagi ibu, yakni mempersiapkannya mengemban amanah besar mengasuh bayi dan menguatkan ikatan emosi antara ibu dan bayi.

Agar Anak Mencintai Ilmu

Tugas orangtua bukan semata-mata mempersiapkan anak memiliki segudang prestasi akademik saja, tapi membimbingnya untuk mencintai ilmu sehingga anak akan senantiasa bersemangat dalam proses belajar. Caranya yaitu :

  1. Beri kasih sayang. Rosulullah SAW mencurahkan kasih sayang pada anak-anaknya dan senantiasa menyempatkan waktu untuk bermain bersama anak sebelum mengajarkan tentang kebenaran.
  2. Beri rangsangan untuk berpikir, yaitu tentang memberi manfaat kepada alam dan mengembalikan semua persoalan hidup kepada Allah SWT.
  3. Mendorong anak memiliki cita-cita yang visioner, yaitu menjadi manusia idealis namun memahami realitas hidup.

Tiga Bekal

Ada tiga bekal yang sejatinya harus disiapkan orangtua dalam mengasuh anak :

  1. Rasa takut terhadap masa depan anak, yaitu takut jika anak akan menjadi generasi lemah. Rasa takut ini akan mendorong orangtua mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.
  2. Takwa kepada Allah SWT.
  3. Senantiasa berbicara dengan perkataan yang benar (qaulan sadidan).

Dalam menghadapi perilaku anak yang berbeda kepada ayah dan ibu, orangtua harus memahami jika hal itu terjadi karena perbedaan sikap ayah dan ibu terhadap anak. Ayah dan ibu harus menyamakan prinsip dan seirama dalam pengambilan keputusan, meskipun gaya menghadapi anak boleh berbeda.

Memahami Perilaku Anak

Perilaku anak memiliki tiga tujuan, yaitu :

Memiliki perasaan mampu

Saat anak mempunyai perasaan mampu, ia akan senantiasa siap menghadapi tantangan. Sebaliknya, anak yang merasa tidak mampu dan tidak berprestasi cenderung akan membuat masalah di rumah maupun di sekolah.

Perasaan tidak mampu itu dapat dikaitkan dengan tindakan orangtua yang membanding-bandingkan anak dan merendahkan pencapaian anak.

Memiliki hubungan dengan orangtua dan orang-orang di rumah

Orangtua yang kurang memperhatikan anak, lebih fokus pada hiburan seperti menonton TV atau urusannya yang lain di ponsel membuat anak merasa kurang diperhatikan.

Orangtua merasa sudah memperhatikan anak, padahal anak tidak merasa diperhatikan. Anak akan membuat masalah karena menurutnya, ketika membuat masalah orangtua akan memberikan perhatian lebih kepadanya.

Memiliki peran penting di rumah

Anak merasa berharga jika ia memiliki peran di rumah. Orangtua harus memposisikan peran tersebut sebagai kepercayaan, bukan sebagai tugas, karena anak cenderung merasa keberatan jika peran tersebut semata-mata hanya sebuah perintah.

Penting, orangtua harus memahami kapan bersikap tegas dan memberikan kelonggaran bagi anak. Selain itu, orangtua harus bijak dalam mengapresiasi tindakan positif anak meskipun sedang dalam situasi kesal.

Anak yang dibesarkan dengan toleransi cenderung mudah mengendalikan diri. Orangtua yang senantiasa menuruti keinginan anak, serba melayani anak akan membuat anak menjadi pribadi yang kurang tanggap di masa dewasa kelak.

Menghadapi Trauma

Ketika anak mengalami trauma, orangtua harus mengenali keterlibatan perasaannya. Apakah anak sungguh-sungguh mengalami trauma atau malah sebenarnya orangtua yang trauma.

Jika orangtua trauma atas peristiwa yang traumatis yang dialami anaknya, menerima kenyataan bahwa orangtua memang bersalah adalah hal yang bijak untuk mencegah rasa cemas berkepanjangan. Jauhi kata ‘seandainya’, karena kalimat penyesalan ini akan menjauhkan dari rasa tenang. Yang sudah terjadi biarlah terjadi.

Penting untuk memahami perasaan yang ditunjukkan anak untuk kemudian menghadirkan rasa empati terhadapnya. Keterlibatan orangtua penting dalam mendampingi anak menghadapi rasa trauma dan kemudian mengubah cara pandang anak agar lebih positif menghadapi trauma.

Bagian Kedua : Membekali Jiwa Anak

Usia 2 – 4 tahun merupakan masa anak membangun harga diri (self-steam) sehingga anak akan mulai memiliki cita-cita dan kepercayaan diri. Orangtua seharusnya memotivasi anak sebaik mungkin karena motivasi dapat meningkatkan energinya untuk mencapai cita-cita dan kepercayaan diri yang tinggi.

Pada usia 4 – 6 tahun, orangtua perlu memberikan pengalaman yang lebih banyak, disamping memberi motivasi, untuk mendorong anak memiliki energi yang kuat dalam bercita-cita.

Pada usia 6 – 8 tahun, orangtua perlu membangun sense of competence pada anak (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi), hal ini dapat dilakukan dengan meluangkan waktu untuk sering bercakap-cakap dengan anak dibarengi dengan memberikan dorongan positif kepadanya.

Membekali anak dengan visi yang jelas, keyakinan, sikap hidup, cara berpikir, dan prinsip hidup akan sangat bermanfaat untuk kehidupan anak nantinya. Rasa syukur merupakan dasar pertumbuhan mental anak karena dengannya hidup jauh terasa lebih berharga, bersemangat, dan optimis.

Akhlak yang mulia bukan semata-mata akibat pembiasaan, tetapi ditumbuhkan dengan keyakinan yang kuat dan keimanan yang benar.

Mengenalkan Islam sebagai agama yang benar disertai dengan pembuktian yang cerdas penting dilakukan pada anak. Ketika anak yakin jika agamanya yang paling benar, maka mereka akan belajar bagaimana bertoleransi dengan tepat terhadap pemeluk agama lain.

Penting untuk menunjukkan pluralitas agama sesuai tuntunan Rasulullah, bukan pluralisme yang memandang bahwa semua agama sama. Berislam secara ihsan, yaitu mulia akhlaknya, lembut sikapnya, dan tegas pada waktu yang tepat.

Anak harus bisa berislam dengan bangga, caranya adalah sebagai berikut :

  1. Tumbuhkan kepercayaan diri dan harga diri sebagai seorang muslim.
  2. Biasakan menunjukkan identitas sebagai muslim secara fisik, mental, dan cara berpikir.
  3. Membangkitkan al wala’ wal bara’ pada anak.

Bagian Ketiga : Menghidupkan Al Qur’an pada Diri Anak

Dokumen penulis

Hal-hal yang perlu dilakukan orangtua untuk menghidupkan Al Qur’an pada diri anak adalah :

  • Menumbuhkan kecintaan anak pada Al Qur’an karena anak akan menerima firman Allah SWT dengan sepenuh hati.
  • Menumbuhkan hasrat yang kuat untuk berpedoman pada Al Qur’an.
  • Menumbuhkan budaya mengambil petunjuk dari Al-Qur’an semenjak masih berusia anak-anak.
  • Membiasakan menerima ayat Al Qur’an lalu mengajak anak menemukan apa yang harus dikerjakan berdasarkan ayat tersebut.
  • Mengajarkan pada anak untuk memegangi Al Qur’an dengan kuat, yaitu dengan kekuatan hati (antusiasme, kecintaan, kemampuan menghapal), kekuatan pikiran (memahami dan mengambil pelajaran), dan kekuatan fisik.
  • Memberikan pengalaman religius saat mengajarkan Al Qur’an, misalnya mengajak berinfak setelah mengajarkan ayat tentang infak.

Bagian Keempat : Sekedar Cerdas Belum Cukup

Orangtua mungkin bisa menjadikan anak hebat dalam hal membaca, menulis, ataupun menggambar, namun kemampuan mencerna, memahami, memikirkan, dan mengembangkan konsep yang seharusnya perlu ditingkatkan.

Kecerdasan tanpa kemampuan mengolah diri tidaklah cukup. Semua itu perlu integritas. Anak dengan kecerdasan luar biasa cenderung sibuk belajar akademis, kepribadian tidak terlalu cukup matang, dan rentan bermasalah jika anak tersebut tidak berkesempatan berkembang secara alamiah.

Bagian Kelima : Menempa Jiwa Anak, Menyempurnakan Bekal Masa Depan

Jika anak dibesarkan dengan keterampilan, kemampuan kognitif, dan fasilitas mapan saja, anak dapat kehilangan arah saat remaja. Kemampuan kognitif itu penting, tapi harus diimbangi dengan nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup, yaitu keimanan kepada Allah SWT.

Orangtua perlu membangun budaya belajar pada anak, yaitu menunjukkan sikap positif misalnya memberi pengalaman belajar yang menyenangkan, membangun kedekatan emosi dengan anak, menunjukkan manfaat belajar, dan mengapresiasi hasil belajar.

Ketika anak melakukan hal-hal yang tidak sesuai adab, orangtua harus menegur langsung, tidak perlu menunggu lain waktu. Awali teguran dengan dengan panggilan sayang yang akrab, kemudian langsung menunjukkan tindakan mana yang tidak sesuai, lalu mengoreksi dan menunjukkan yang seharusnya dilakukan oleh anak.

Hindari memberi julukan negatif kepada anak (labeling), terutama pada anak yang belum mencapai masa tamyiz (belum mampu membedakan benar dan salah).

Nah, itu tadi adalah rangkuman dari buku ini. Ada banyak hal yang tidak mampu tertulis di sini, sehingga Sahabat dapat membaca bukunya secara utuh jika Sahabat tertarik membaca lebih detail informasi yang disampaikan penulis. Salam!

apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.