apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tips Swamedikasi! 3 Cara Pilih Obat Batuk yang Tepat

4 min read

Duniaku Maya – Musim hujan telah tiba! Waspadai penurunan daya tahan tubuh yang dapat menyebabkan beberapa penyakit, salah satunya adanya gejala batuk.

Batuk diartikan sebagai refleks protektif dari saluran napas bagian atas untuk mengeluarkan benda asing (hambatan pada pernapasan). Batuk bukan merupakan penyakit, namun batuk dapat dikaitkan dengan berbagai asosiasi klinis dan etiologi.

Etiologi yang menyebabkan batuk beragam, diantaranya yaitu alergi, beberapa penyakit seperti : asma, Tuberculosis (TBC), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), Congestive heart failure (CHF). serta beberapa alasan lain seperti asap rokok, benda asing yang masuk ke paru-paru, dan tersedak.

Obat-obat batuk yang tersedia di apotek sebagian besar merupakan obat bebas (Over the Counter – OTC). Obat golongan ini bisa di beli di apotek tanpa resep dokter atau dikenal dengan swamedikasi. Pengobatan batuk bersifat simptomatik, sehingga tujuan pengobatan swamedikasi pada batuk yaitu untuk meredakan batuk dan mencegah komplikasi.

Swamedikasi adalah pemilihan dan penggunaan obat modern, herbal, maupun obat tradisional oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit atau gejala penyakit. Apoteker akan membantu memilihkan obat yang paling sesuai dengan kondisi pasien atau menyarankan kepada pasien untuk berobat lebih lanjut ke dokter jika memang diperlukan.

Klasifikasi Batuk

Berdasarkan jenisnya, batuk dibagi menjadi batuk produktif dan batuk non-produktif.

Batuk Produktif (Batuk Berdahak)

Batuk Produktif atau batuk berdahak adalah batuk yang menghasilkan dahak atau lendir. Batuk berdahak bisa disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan seperti influenza, bronkhitis, atau pneumonia, serta naiknya asam lambung pada penderita GERD. Selain itu, batuk berdahak juga merupakan gejala dari Penyakit Paru-Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Batuk Non-Produktif (Batuk Kering)

Batuk yang ditandai dengan tidak adanya produksi dahak, suara yang nyaring, dan menimbulkan rasa sakit pada tenggorokan. Penyebab batuk kering adalah adanya infeksi seperti influenza; faktor alergi seperti debu, asap rokok, dan perubahan suhu; dan adanya efek samping obat yaitu pada penggunaan antihipertensi Captopril.

Berdasarkan durasi batuk, batuk diklasifikasikan menjadi batuk akut, batuk subakut, dan batuk kronis.

Jenis BatukDurasi Batuk
Batuk akutKurang dari 3 minggu
Batuk subakut3 – 8 minggu
Batuk KronisLebih dari 8 minggu

Manajemen Batuk

Untuk mempercepat penyembuhan gejala batuk, dapat dilakukan beberapa terapi, yaitu terapi dengan menggunakan obat (Farmakologi) dan terapi yang tidak berkaitan dengan obat (non-Farmakologi).

1. Terapi Non-Farmakologi

Batuk Efektif

Untuk mempercepat penyembuhan gejala batuk, pasien dapat menerapkan batuk efektif, salah satunya adalah teknik huff coughing. Tujuan menerapkan batuk efektif ini adalah untuk mengeluarkan dahak yang ada di dalam paru-paru dengan lebih maksimal, sehingga aliran udara kembali lancar.

Konsumsi Lozenges/Pastilles Tanpa Bahan Obat

Lozenges/pastilles/hard candy tanpa bahan obat dapat mengurangi  iritasi tenggorokan dan mengurangi frekuensi batuk.

Humidifikasi

Humidifier adalah alat yang dapat melembabkan udara yang dihirup, sehingga meringankan rasa nyeri akibat iritasi di tenggorokan. Namun, udara yang terlalu lembab tidak disarankan karena dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan jamur dalam rumah, sehingga resiko terkena reaksi alergi juga meningkat. Maka dari itu, cold-air humidifier lebih disarankan daripada hot-air humidifier  karena lebih sedikit bakteri yang tumbuh dalam suhu dingin.

Hidrasi

Jika tubuh terhidrasi dengan baik, dahak yang dihasilkan akan lebih encer sehingga mudah dikeluarkan. Orang dewasa dianjurkan untuk meminum delapan gelas (kurang lebih 2 L air) setiap harinya. Terlalu banyak minum (hidrasi yang berlebihan) dapat menyebabkan hiponatremia pada penderita infeksi saluran pernafasan bawah. Selain itu, hidrasi perlu diperhatikan agar tidak berlebihan terutama pada penderita gagal ginjal dan gagal jantung.

2. Terapi Farmakologi

Untuk manajemen terapi batuk berdahak/produktif, terdapat dua golongan obat yaitu ekspektoran dan mukolitik.

Ekspektoran

Mekanisme kerja ekspektoran yaitu mengurangi iritasi pada reseptor batuk dengan cara meningkatkan akumulasi lendir melalui “coughing up” atau “membatukkan”. Maksudnya, obat ini bekerja dengan membentuk massa dahak sehingga lebih mudah untuk dibatukkan. Pada pasien bronkhitis, ekspektoran lebih efektif untuk meredakan batuk akibat produksi dahak yang kental.

Efek samping yang harus diwaspadai dari pengunaan ekspektoran adalah gangguan saluran pencernaan.

Berikut adalah tabel obat yang termasuk golongan ekspektoran dan contoh produknya :

Bahan AktifContoh Produk
GG (Gliseril Guaiakolat) / GuaifenesinActifed Plus Ekspectoran, Anakonidin, Anacetine, Bisolvon Extra, Cohistan Expectorant, Comtusi, Decolsin, Hufagrip Flu dan Batuk, Intunal, Komix Flu, Mextril, Paraflu, Pim-Tra-Kol, Siladex Mucolytic & Expectorant, Woods’ Peppermint Expectorant, Triaminic Ekspektoran & Pilek
Turunan garam : natrium, kalium, amonium (iodida, sitrat, chlorida)Ikadryl sirup, Sanadryl Expectorant Sirup
HerbalEkstrak daun ivy (Prospan); OBH (succus liquiritiae)

Mukolitik

Mekanisme kerja obat golongan mukolitik adalah sebagai penghancur dahak. Mukolitik mengandung sulfhydryl reaktif yang bersifat proteolitik dan pemecah ikatan disulfida dari mukus. Efek samping yang harus diwaspadai dari pengunaan mukolitik adalah bronkospasme dan gangguan saluran pencernaan.

Berikut adalah tabel obat yang termasuk golongan mukolitik dan contoh produknya :

Bahan AktifContoh Produk
AcetylsysteinFluimucil, N-Ace, Simucil
ErdosteinVostrin, Edopect, Erdomex
BromhexinBisolvon, Bromeco, Farmavon, Omesolvon
AmbroxolEpexol, Interpec, Mucoxol, Nuvopec, Mucos, Mucopect, Mucera, Propect

Sedangkan untuk manajemen terapi batuk tidak berdahak / non-produktif, dapat digunakan obat golongan antitusif. Mekanisme kerjnya yaitu dengan cara menurunkan kepekaan reseptor pada otak sehingga meningkatkan nilai ambang refleks batuk.

Golongan antitusif ini dibagi menjadi antitusif opioid, antitusif non-opioid, dan antitusif topikal.

Antitusif Opioid (Narkotik)

Golongan opioid yang bersifat antitusif adalah codein. Untuk membeli obat ini harus menggunakan resep dokter. Efek samping yang harus diperhatikan saat menggunakan obat ini adalah efek ketergantungan, gangguan pencernaan (mual, muntah, konstipasi), dan depresi serebral.

Dosis : Dewasa 10-20 mg tiap 4-6 jam maksimal 120 mg/hari.

Contoh produk yang mengandung codein : codikaf, codipront, coditam.

Antitusif Non-Opioid

Golongan non-opioid lebih dipilih untuk batuk akut tidak berdahak terkait dengan risiko penyalahgunaan yang lebih minimal daripada golongan opioid.

Nama ObatDosisEfek SampingContoh Produk
Dekstromethorphan HBrDewasa : 10-20 mg tiap 4 jam atau 30 mg tiap 6-8 jam maksimal 120 mg/hari 
Anak  : 1 mg/kg bb/hari dalam 3-4 dosis terbagi.
Mual, mengantuk, muntah, rasa tidak nyaman pada perut, dan konstipasi.Sanadryl DMP Syr, Actifed Merah Syr, Mixagrip flu dan Batuk, Anakonidin Syr, Dextral, Woods Antitusif, Bisolvon Antitusif, Mextril Antitusif
Difenhidramin Dewasa : 25-50 mg tiap 4 – 6 jam. Maksimal 300 mg / hari.
Anak  : usia 6 – 12 tahun : 12,5 – 25 mg tiap 4 – 6 jam. Maksimal 150 mg/hari.
Anak  : usia 12 tahun ke atas : 25 – 50 mg tiap 4 – 6 jam. Maksimal 300 mg/hari.
Mengantuk, depresi pernapasan, pandangan kabur, retensi urin, dan mulut kering Ikadryl sirup, Sanadryl Expectorant Sirup

Antitusif Topikal

Pilihan terapi selain antitusif di atas adalah antitusif topikal. Menthol dan champora merupakan antitusif topikal yang diakui oleh FDA (Food and Drugs Association).

Contoh ProdukKandungan
Vick’s Vaporubcamphora 2630 mg, menthol 1410 mg, eucalyptus oil 665 mg
Balsem LangL-menthol 155 mg, eucalyptus oil 195 mg, metil salisilat 80 mg, camphor 40 mg

Demulsen

Obat batuk golongan demulsen mengandung zat-zat seperti sirup atau gliserol. Obat ini dapat digunakan untuk batuk produktif dan batuk non-produktif.

Berikut adalah contoh produk yang termasuk demulsen :

Contoh ProdukKandungan
Woods Peppermint Lozenges Honey LemonMint flavour, Peppermint essesntial oil, Peppermint essential verona, Menthol crystal, Gula
Permen Tolak Anginkapulaga, jahe, buah cadas, daun cengkeh, madu

Decongestan

Dekongestan digunakan untuk mengobati batuk tidak berdahak, disertai rasa sesak pada dada dan hidung tersumbat. Mekanisme kerjanya yaitu vasokonstriksi sehingga dapat memperbaiki ventilasi. Efek samping yang harus diwaspadai : irama jantung tidak beraturan, sakit kepala, dan tremor. Obat golongan ini dikontraindikasikan untuk penderita hipertensi, IMA, dan hipertiroid.

Berikut adalah contoh produk yang mengandung decongestan oral :

Nama ObatContoh Produk
Pseudoefedrin HClHufagrip Kuning, Anakonidin Syr, Tremenza tab, Tremenza Syr, Ikadryl Flu syr, Hufagrip hijau, Actifed Merah, Decolgen, Alco, Lapifed, Demacolin
Efedrin HClNeonapacin, Asthma Soho, Komix Batuk dan Flu, OBH Combi Batuk Pilek, Oskadryl
Phenyleprin HCl Bodrexin Demam Sirup, Decolgen Fx
PhenylpropanolaminUltra flu, Tera-F, mixagrip flu, Alpara, Paratusin

Berikut adalah contoh produk yang mengandung decongestan topikal :

Nama ObatContoh Produk
OxymetazolineAfrin, Iliadin
XylomethazolineOtrivin, Nosti, Erlavin

Untuk memilih obat batuk yang sesuai, tentukan tiga hal yang paling sesuai dengan kondisimu. Diantaranya jenis batuk, bentuk sediaan yang paling sesuai, dan ketahui efek samping dan interaksi obat yang harus diwaspadai. Pastikan untuk berkonsultasi dengan apoteker yang bertugas untuk memilih obat batuk yang sesuai. Jika batuk tidak segera membaik, maka segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter

Daftar Pustaka

  • Afifah, H. N., 2016. Memilih Obat Batuk yang Tepat untuk Pengobatan Sendiri “Swamedikasi”. Dikutip 29 Januari 2022 dari Majalah Farmasetika : https://farmasetika.com/2016/12/23/memilih-obat-batuk-yang-tepat-untuk-pengobatan-diri-sendiri-swamedikasi/
  • Bakhtiar, A. and Juwita, P.M., 2020. Management of Cough. Jurnal Respirasi6(3), pp.85-96.
  • Berardi, RR., Ferreri, SP., Hume, AL., Kroon, LA., Newton, GD., Popovich, NG., Remington,TL., Rollins, CJ., Shimp, LA. 2009. ‘Cough’, in Tietze, Karen J (eds), Handbook of Nonprescription Drugs : An Interactive Approach to Self-Care 16th Ed. Washington DC : American Pharmacists Assosiation, p. 205.
  • Sharma S, Hashmi MF, Alhajjaj MS. Cough. [Updated 2021 Aug 14]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK493221/
  • https://pionas.pom.go.id/
apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.