apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

Waspada Pengguaan Obat pada Ibu Hamil

4 min read

Duniaku Maya – Ibu hamil seringkali khawatir jika akan mengonsumsi obat. Apakah obat yang dikonsumsi tersebut aman atau malah berbahaya bagi janinnya?

Menurut sebuah penelitian, pengetahuan tentang keamanan obat saat hamil ataupun menyusui masih sedikit dipahami. Padahal, terdapat beberapa hal yang perlu diwaspadai ibu hamil ataupun ibu menyusui terkait keamanan obat.

Peran apoteker dalam memberikan asuhan kefarmasian sangat penting. Ada beberapa hal yang perlu apoteker ketahui untuk memastikan keamanan obat bagi ibu hamil.

Farmakokinetik pada Kehamilan

Berkaitan dengan Ibu

AbsorpsiPeningkatan level progesteron memperlambat pengosongan lambung sehingga meningkatkan waktu transit obat di usus. Akan tetapi, kondisi ini tidak mempengaruhi absorpsi obat secara bermakna.
DistribusiTerjadi peningkatan volume darah hingga 50% dan curah jantung hingga 30%, yang mana terdistribusi 60% di plasenta, janin dan cairan amniotik serta 40% di jaringan si ibu. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kadar puncak obat dalam serum, terutama pada obat dengan VD rendah dan obat-obat yang terdistribusi di air seperti golongan aminoglikosida.

Peningkatan cairan tubuh menyebabkan pengenceran serum albumin (hipoalbuminemia) sehingga terjadi penurunan ikatan obat-albumin. Obat-obatan yang ikatan protein plasmanya tinggi akan lebih banyak dalam bentuk tidak terikat, namun tidak terlalu bermakna secara klinis.
MetabolismePeningkatan level progesteron juga menginduksi enzim yang memetabolisme obat di hati, sehingga akan mempercepat metabolisme obat-obatan yang larut lemak.
EkskresiPeningkatan aliran darah ke ginjal hingga 100% dan GFR 70%, sehingga dapat mempengaruhi bersihan (clearance) obat yang eliminasi nya terutama lewat ginjal, contohnya penicilin.

Berkaitan dengan Janin

Terdapat beberapa faktor kritis yang mempengaruhi transfer obat melalui plasenta dan efek obat terhadap janin :

Sifat fisika kimia obat1. Kelarutan dalam lemak : Obat yang larut lemak akan lebih mudah berdifusi melewai plasenta dan masuk ke sirkulasi janin. Contoh : Thiopental, yang dapat menyebabkan apnea pada bayi yang baru dilahirkan.
2. Derajat ionisasi : Obat yang tidak terionisasi mudah melewati plasenta, sedangkan obat yang terionisasi sulit melewati plasenta. Contoh : Suksinil kholin dan tubokurarin (yang digunakan pada SC) merupakan obat yang derajat ionisasinya tinggi sehingga kadar di janin rendah.
3. Ukuran molekul :
– Obat dengan BM sampai dengan 500 Dalton : mudah melewati pori membran (bergantung juga pada kelarutan dalam lemak dan derajat ionisasi).
– Obat dengan BM 500 – 1000 Dalton : sulit melewati plasenta.
– Obat dengan BM >1000 Dalton : sangat sulit melewati plasenta. Contoh : Heparin (antikoagulan pilihan yang aman pada kehamilan).
Kecepatan obat melewati plasenta dan jumlah obat yang mencapai janin1. Ikatan protein : Derajat keterikatan obat dengan protein (terutama albumin) akan mempengaruhi kecepatan melewati plasenta, namun jika obat sangat larut lemak maka hal ini tidak terlalu mempengaruhi.
2. Metabolisme plasenta : Plasenta juga dapat berperan sebagai tempat metabolisme beberapa obat yang dapat melewatinya. Contohnya prednisolon, deksametason, azidotimidin (zidovudin) mengalami metabolisme yang bermakna di plasenta. Obat-obatan yang dapat melewati plasenta akan masuk sirkulasi janin lewat vena umbilikal.

Farmakodinamik pada Kehamilan

Pada ibuPerubahan curah jantung dan aliran darah ke ginjal kadang menyebabkan ibu hamil membutuhkan obat yang tidak dibutuhkan saat tidak hamil.
Contohnya :
1. Glikosida jantung dan diuretik karena adanya peningkatan beban jantung pada kehamilan.
2. Insulin untuk mengontrol glukosa darah pada diabetes yang diinduksi kehamilan.
Pada janinTerdapat beberapa obat yang diberikan pada ibu hamil yang ditujukan untuk pengobatan janin.
Contohnya :
1. Kortikosteroid untuk merangsang kematangan paru janin bila ada prediksi kelahiran prematur.
2. Fenobarbital dapat menginduksi enzim hati untuk metabolisme bilirubin sehingga dapat meminimalkan insiden jaundice (bayi kuning). Selain itu, dapat menurunkan risiko pendarahan intrakranial bayi kurang umur.
3. Antiaritmia diberikan pada ibu hamil untuk mengobati janin yang menderita aritmia jantung.

Penggolongan Obat menurut FDA

KategoriKeteranganBeberapa Contoh
Kategori AAman untuk janinVitamin C, Vitamin E, Vitamin B Komplek, Asam folat, Liotyronine, ergocalsiferil (Peroral)
Kategori BTidak ada risiko untuk janin pada proses studi hewan coba, namun belum ada studi pada manusia.Amoxicillin, N-asetilsistein, amonium klorida, amphoterisi B, parasetamol, ampisilin, Benzylpenicilin, Bisacodyl, Budesonide (nasal, inhalasi), Betahistin, Cefotaxime, cefixime, cefazolin, cefadroxyl, cefoperazone, ceftriaxone, cefuroxime, cetirizine, Colestyramine, Clozapine, Clopidogrel, Clindamysin, Diclofenac, Ethambutol, Esomeprazole, Enoxaparin, Erythromycin, Fondaparinux sodium, Fosfomycin, Loratadine, Loperamid, Ursadeoxycholicacid, Vancomycin, Sertraline, Ranitidine, Lactulose, Lansoprazole, Pantoprazole, Lidocain, Methyldopa, Meropenem, Octreotide, Orlistat, Montelukast sodium, Sucralfate, Terbutaline, asam traneksamat.
Kategori CStudi pada hewan menunjukan efek samping pada janin (teratogenik) / embriosidal atau yang lainnya, tetapi belum ada studi control pada wanita hamil. Obat harus diberikan hanya jika
keuntungan lebih besar dari resiko pada janin.
Morfin, Atrofin, Trihexypenidyl, TMP, Trifluoperazine, Salbutamol, Sodium bicarbonate, Theopilin, Thiamine, Tamsulosin, Sterptokinase, Spiramycin, Pseudoephedrin, Propanolol, Quetipine, Risperidone, Potassium Cl, Omeprazole, Oseltamivir, Oxymethazoline, Nevirapine, Norepinephrine, Phenylephrine, Itraconazole, Ketoconazole, Lamotrigine, Levodopa, Levofloxacin, Methylprednisolone, Metronidazole, Mannitol, Mebendazole, Asam Mefenamat, Meloxicam, Furosemide, Irbesartan, Isosorbid dinitrat, Gemfibrozil, Hydrocortisone, Hydroxycloroquin, Hyoscyamine, Dexamethasone, Fenofibrate, Fentanyl, Epoetin alfa, Gamma globulin, Chlorampenicol, Clarithromysin, Diltiazem, Calcitriol, Ciprofloxacin, Ca Gluconate, Acetazolamide, Allopurinol, Aminophylline, Amitripthylin, Bacitrasin.
Kategori DTerbukti berbahaya bagi janin, namun dapat digunakan pada kondisi gawat darurat jika tidak ada obat lain yang lebih aman.Aspirin, fenitoin, Alprazolam, Amiodarone, Carbamazepine, Colchicine, Chlordiazepoxide, Cisplatin, Diazepam, Hydroxyurea, Lorazepam, Kanamycin, Miconazole, Midazolam, Oxytetracycline, Progesterone, Propylyhiouracil, Streptomycin, Somatostatin, Tramadol, Tamoxifen, Tetracycline, Asam Valproat.
Kategori XTerbukti teratogenikThalidomid, Warfarin, Triazolam, Rosuvastatin, Testosterone, Urofolitropin, Temazepam, Urofolitropin, Stenozolol, Raloxifene, Quinine, Mestranol, Menothrophine, Medroxyprogesterone, Medrogestone, Lovastatin, Leuprorelin, Methotrexate, Methyltestosterone, Iodinated glycerol, Finasteride, Fluoxymesterone, Flurazepam, Fluvastatin, Isotretinoin, Desogrestel, Dienestrol, Diethylstilbestrol, Ergotamine, Estazolam, Estradiol, Estriol succinate, Estrone, Estropipate, Ethinyl estradiol, Etretinate, Ganirex, Coumarine, Clomifene , Atorvastatin, Alprostadil

Obat-obat Teratogenik

Obat-obat yang bersifat teratogenik adalah obat-obat yang dapat mempengaruhi struktur janin jika terpapar. Jika terpapar akan berefek pada waktu kritis pertumbuhan anggota badan, yakni selama minggu ke empat sampai minggu ketujuh kehamilan.

Terdapat 6 mekanisme obat-obat teratogenik :

  1. Antagonisme folat
  2. Gangguan sel krista saraf
  3. Gangguan endokrin
  4. Stres oksidatif
  5. Gangguan pembuluh darah
  6. Teratogenesis yang dimediasi oleh reseptor atau enzim tertentu

Beberapa efek teratogenik yang telah diketahui adalah sebagai berikut:

ObatEfek Teratogenik
ThalidomidePhocomelia
TetracyclinesGigi berubah warna & berubah bentuk, pertumbuhan tulang terhambat
IsotretinoinCacat jantung kraniofasial dan SSP
PhenytoinFalang hipoplastik, celah bibir / langit-langit ; mikrosefali
Androgen & ProgestinVirilisasi
AlkoholIQ rendah, Foetal alcohol syndrome
Obat antitiroidGondok janin dan hipotiroidisme
CarbamazepineNeural tube defects
ACEIOligohidramnion; hipokalvaria; IUGR; efek ginjal (displasia tubular ginjal, anuria / oliguria, dan hiperkalemia, gagal ginjal stadium akhir); hipotensi neonatal; kelainan kardiovaskular
Methotrexate Anencephaly, cacat tabung saraf, kardiovaskular
(tetralogi Fallot); kraniofasial; keterbelakangan mental
IsotretinoinAborsi spontan; kelainan kraniofasial; hipoplasia timus; cacat jantung
MisoprostolCacat ekstremitas dan tabung saraf
ValproatCacat tabung saraf; sindrom valproat janin : kelainan wajah dysmorphic mikrosefali, hipertelorisme, dahi menonjol, jembatan hidung datar rendah, telinga berbentuk aneh
KloramfenikolToksisitas sumsum tulang janin; Baby Grey Syndrome
AminoglikosidaOtotoksik

Telaah Ulang Regimen Obat

Kegiatan ini dilakukan oleh apoteker untuk mencegah, meminimalkan efek merugikan obat dan mengevaluasi kepatuhan pasien.

Ada beberapa kriteria prioritas pasien yang akan dilakukan telaah ulang regimen obat yaitu :

  • Diberikan 5 macam obat atau lebih
  • Regimen obat kompleks atau obat tersebut berisiko tinggi terjadi efek samoing serius
  • Mengalami 3 penyakit atau lebih
  • Terdapat gangguan kognitif
  • Kepatuhan obat rendah
  • Akan pulang dari perawatan RS
  • Berobat pada banyak dokter
  • Mengalami ESO atau alergi

Tatalaksana telaah ulang regimen obat :

  1. Apoteker memiliki pengetahuan tentang farmakoterapi obat ibu hamil.
  2. Apoteker menggali riwayat pengobatan selama hamil (nama obat, frekuensi, cara penggunaan, alasan penggunaan).
  3. Apoteker memisahkan obat-obatan yang sudah tidak digunakan oleh ibu hamil.
  4. Apoteker menggali efek terapi dan efek samping obat yang dirasakan oleh ibu hamil.
  5. Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat.
  6. Melakukan penyelesaian masalah.

Monitoring Penggunaan Obat pada Ibu Hamil

  1. Apoteker mengumpulkan data yang diperlukan seperti identitas pasien, riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat, riwayat alergi, riwayat OTC, data pemeriksaan fisik, uji laboratorium dan diagnostik, masalah medis, dan obat-obatan yang sedang digunakan.
  2. Apoteker mengidentifikasi Drug Related Problem (DRP).
  3. Memberikan masukan terkait penyelesaian masalah. Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu: benefit and risk ratio obat yang diresepkan, menghindari penggunaan obat pada trimester pertama kehamilan, penggunaan dosis efektif terkecil dalam jangka waktu singkat, mengindari polifarmasi, dan pertimbangan penyesuaian dosis.
  4. Memberikan KIE yang tepat kepada pasien, terutama tentang manfat pengobatan pada wanita hamil harus lebih besar daripada risiko jika tidak diberikan pengobatan.

Daftar Pustaka

  • Burkey, B.W. and Holmes, A.P., 2013. Evaluating medication use in pregnancy and lactation: what every pharmacist should know. The Journal of Pediatric Pharmacology and Therapeutics18(3), pp.247-258.
  • Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. 2006. Pedoman Pelayanan Farmasi untuk Ibu Hamil dan Menyusui. Jakarta : Depkes RI.
  • Shaikh, A.K. and Kulkarni, D.M., 2013. Drugs in pregnancy and lactation. Int J Basic Clin Pharmacol2(2), pp.130-5.
apt. Maya Firdausi, S.Farm Lulusan Apoteker Universitas Airlangga periode 108 (2019). Pernah aktif di jurnalistik SMAN 1 Bangil dan Majalah Farmapos Farmasi UNAIR. Beberapa cerpen tergabung pada 11 antologi bersama penulis lain yang diterbitkan oleh penerbit indie. Telah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen berjudul "Rescue Me" (2020). Penerima manfaat Beastudi Etos Dompet Dhuafa angkatan 2014 dan Beasiswa Cendekia BAZNAS tahun 2018.

One Reply to “Waspada Pengguaan Obat pada Ibu Hamil”

  1. Dеfiniteⅼy believe that that you said. Υour favߋrite reasоn appeared to be
    on the net tһe simplest thing to understand of.

    І say to you, I definitely get irkeⅾ at the same time aѕ other people think аbout concerns that they just do not realіze about.
    You controlled to hit the nail upon the top and defined out the wһole thing
    with no need side-effects , οther people can takе a
    sіgnal. Will lіkely be ɑgain to get more. Thanks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *